Sabtu, 28 September 2013



MALAIKAT TANPA NAMA

 
KARYA:ABD AZIS

 BANDUNG,17-09-2013

Add caption











TENTANG KITA DENGAN MALAM

Malam dan angin ada dalam diri kita dan kita ada dalam pelukannya

Mata kita terus memandang

Terus menjauh menuju arah-arah yang berlawanan

Semua manusia mencakar dan merebut sesuatu yang bau bangkai barangkali mereka tak sadar atau telah menjadi budaknya

Maka kita jangan ikut campur sayang,biarkan kita tetap bersama malam

Bukankah kita telah berjanji:kita selalu tetap disini meski keadaan kita seperti lalang kering di terpa angin

Bukankah kita telah bersumpah di antara gelapnya malam:apa pun yang terjadi tangan kita tetaplah bergandingan meski malam menjelma siang



Bandung,18/09/2013



GATAL

Aku gatal lantaran dada ada bulu

Aku gatal lantaran rumput dada kian kering

Dan aku gatal lantaran kau menjadi-jadi

Apakah kau jua gatal....?

Bandung,18/09/2013



SETELAH MAGRIB

Sayang,setelah mangrib surut entah apa yang kita bisikkan pada malam...?

Sementara mata kita beransur-ansur surut pula seakan-akan ingin meninggalkan dunia entah maut yang menyapa

Dari mata mu telah terlihat musim atau musim-musiman,ternyata ada sepi menyapa di antara dua matamu itu

Bukankah telah aku nakalkan dirimu di waktu senja



Bandung,18/09/2013



DARI LANGIT

Di sebuah gang tua kita duduk bersama tanpa kursi atau alas-alas lainnya tapi hanya saja kolor yang rela mencium bau kencing para penjalan kaki atau para pemabuk

Walaupun demikian

Kita tetap saja santai dan menitipkan punggung-punggung kita di sebuah dinding retak

Tak perduli “bisikmu kepadaku”

Yang penting kita telah terlahir dari langit dan di titipkan kebumi,maka biarkan aku istrahat tentram

Bandung,18/09/2013





MENGINTIP MATA

Dari sekat-sekat gang tua dan dinding retak

Aku intip matamu yang bening seperti embun di kuncup daun

Tapi sial,sayap dinding itu menghalangi pandanganku dan memaksa kau beranjak pergi dari persinggahan

Dan tanpa sengaja aku menjelma malaikat tanpa julukan

Bandung,18/09/2013





KEPERGIAN

Ketika kepergianmu aku memunguti bayang-bayangmu di trotuar kota,di sepanjang ingatan,di sepanjang bola mata,aku merayu dan mencium bekasmu yang telah tertimbun debu jalanan

Di sepanjang ingatan yang tak pernah di lewati oleh kenakalan-kenakalan waktu,aku dan kau akan jumpai bayang-bayang yang tak bisa mereka terka dan menjaringnya

Karena kita adalah julukan tersisa

Bandung,18/09/2013











MALAIKAT

Bisiknya di waktu petang

Kita ini adalah malaikat tanpa nama dan tanpa  sayap untuk anak-anak kita

Lihatlah mereka

Mereka terlahir dari rahimku dan tumbuh besar di pundakku

Jika suatu saat kau menjuluki dirimu sebagai malaikat yang bernama,maka aku tarik nafasmu dan aku kutuk dirimu

Bandung,19/09/2013



TETAP DISINI

Tetaplah disini sayang seperti matamu yang tenang di mataku

Dan biarkan dada ini terus berdetak dan mengalir keujung jalan

Bukankah kita telah saling berbisik “kita akan tetap disini dan menatap dinding yang baru saja kita bangun ini”,maka jangan pernah kau pergi atau pindah kelain dinding sebab dada ini tak mampu berdetak tanpamu

Bandung,22/09/2013











SEPERTI APA DIRIMU

Seperti apa dirimu ketika malam menjelma gelap?,sementara angin terus memperlihatkan gelisahnya dan wajah pucatnya,bisakah kau menjelaskan bentuk dirimu kepada dadaku yang sering bertanya ini?

Bandung,22/09/2013



PERTEMUAN

Kita telah di takdirkan untuk bertemu di jalan ASIA AFRIKA dan berpisah di jalan itu pula,ah kenapa malaikat menuntun kita sampai kejalan ini kalau hannya menyisahkan bekas rindu dan perasaan penasaran,bukankah kita sebelumnya kita tak kenal?

Lantas kenapa kau menyapaku dengan sapaan sopan dan menitipkan selembar daun yang tak kering-kering pula

Pantaskah aku menunggumu di jalan itu lagi,jalan yang pernah kita singgahi dan saling tawar menawar rintik rindu?

Bandung,22/09/2013

















MALAM YANG HENING

kini mataku lihat malam yang hening,aku lihat kau berlayar di puncak gunung kerinduan dan berhenti di pesisir pantai,kau menjerit lantang di setiap hembusa angin yang tak bisa di jelaskan oleh ombak kekarang



malam yang hening,aku datang kepadamu sebab aku lihat dirimu dalam keresahan rindu yang dingin,aku datang untuk sekedar menemanimu agar dirimu hening jua seperti malam ini

Bandung,22/09/2013



BUMBU RINDU

Kini aku racek bumbu rindu untuk dirimu sayang supaya dirimu betah bersamaku,sungguh ini bukan lembaran ayat atau lembaran koran-koran yang sering kau baca setiap pagi tapi tak pernah selesai-selesai dan sungguh ini juga bukan luka atau racun cemburu yang nyaris membunuh dirimu tapi ini sekedar bumbu racekanku yang aku buat-buat sendiri

Maka tak perlu kau resahkan bumbu ini sebab bumbu ini hanyalah sekedar menawarkan rindu pada dadamu

Bandung,22/09/2013









BINTANG DI MATAMU

Aku lihat bintang di matamu

Untukmu,aku datang menyapa bintang kecilmu sebab dari kemaren sore bintangmu berkedip memanggil sukmaku yang liar di jalanan,maka mendekatlah dan lihat dadaku yang penuh para malaikat kerinduan



Lihatlah dengan mata telanjangmu “jika tidak” aku akan menghilang dan terbang bersama malaikat yang tak kau kenal dan aku takkan pernah singga lagi di bintang kecilmu

Bandung,22/09/2013



                                                                                    



AKU TINGGALKAN BEKAS

Jika waktu telah berbicara perpisahan kepadamu,aku tinggalkan bekas rindu didadamu dan keyakinan untuk bertemu lagi

Aku hanya berdoa:semoga angin selalu menyampaikan doaku kepada para malaikat hatimu hingga pertemuan itu terulang kembali

Bandung,22/09/2013









MALAIKAT PUN AKAN BERCERITA

Kembalilah,aku mohon kembalilah seperti waktu yang melukis langit biru

Kembalilah,aku mohan kembalilah marilah kita duduk di kursi tua ini dan bercerita tentang rintik hujan yang membasahi dada kita,lihatlah sejenak di sekitar dinding tua ini ia akan saling berbisik sebgai saksi kerinduan kita sepanjang musim dan para malaikat-malaikat pun akan bercerita kepada Tuhan,

Bandung,22/09/2013





EMBUN DI UJUNG DAUN

Kini aku diam dalam embun pagi seraya berbisik pelan”jatulah ke jantung ku dan jua jatuhlah kejantungnya barangkali dengan begitu ia terjaga dari tidurnya dan beranjak berbisik pula”

Maka jangan lepaskan baju tidurmu sayangku barangkali embun ini takkan sirna di terpa pagi

Bandung,22/09/2013













ADA OMBAK DI MATA MU

Kini aku datang kedadamu sayang lantaran aku lihat ombak  di matamu yang tak kunjung surut



Lihatlah....

Aku berlayar di dadamu dengan perahu kecil dan ikan-ikan yang akan membawa kita ketepi pantai keindahan dan menjahui mereka yang iri-irian



Maka tetaplah kau bersamaku dan biarkan ombak di matamu tetap menjerit,memanggil ikan-ikan yang akan membawa kita berlayar sebab tanpa jeritan ombakmu kita takkan pernah sampai ketepi



28/09/2013



















BINTANG JATUH DI MATA MU

Sebentar lagi magrib akan tiba sayang dan singgah di ubun-ubun mu yang nyaris tak ada musim lagi,lantas malaikat malam akan tiupkan mantra atau wahyu untuk kau sadari.



Lepaskanlah hal yang membuatmu resah sebab keresahan hanyalah permainan pikiran yang rumit



Lepaskanlah hal yang membuat mu bersedih sebab kesedihan hanyalah permainan waktu yang akan membunuh kita



Lepaskanlah sayang

Lalu sambut bintang yang jatuh kematamu dan ia akan menemanimu dalam kesunyian dan menatap mu seperti malaikat yang jatuh cinta dan ia akan menjagamu sampai kau mati dalam pelukannya.

Maka mendekatlah sayang seperti cahaya yang dekat dengan mata mu dan angin takkan marah atau pun cemburu sebab ia tahu kalau kau adalah kekasihku

Bandung,28/09/2013











DI SEBUAH PETANG

Di sebuah petang kau diam sejenak lalu berbisik pada jalan-jalan yang memberi mu kisah atau pun cerita cinta dalam dadamu. “datanglah kekasihku sebelu lampu-lampu ini mati dan tak mekar lagi”



“kedatanganku adalah luka untuk mu dan darah untuk dadaku sebab kedatanganku adalah kenangan yang membunuh kita” bisikku pada lembar daun hati mu



Tapi aku takkan pernah berhenti untuk tiupkan doa di setiap gang-gang dada mu dan aku takkan pernah mati di genggaman tanganmu sebelum  kita kembli pada ranjang ini.

Bandung,28/09/2013





















DI SEBUAH JENDELA

Di sebuah jendela

Kau terus saja diam di jendela malam.meski angin mengetuk pintu-pintu sepi mu dan atap-atap kekal melihat mu dan bintang lancang mengintip wajah mu.

Saat itu pun aku mendekat kearah mata mu seperti cahay bintang yang menembus dinding retak rumah mu.

Lalu aku lihat memar di matamu barangkali itu adalah bekas kemaren atau abad yang lalu

Bandung,28/09/2013





DI RUANG TAMU

Di ruang tamu kita saling diam-diaman

Di ruang tamu kita saling mencatat cerita  


























Perjuangan Tenaga Kerja Wanita dalam Meraih Cita-Cita

Judul Buku             : TKW Mencari Surga Penulis Buku                        : Asa Suzhanty & Abd Azis Ana Penerbit Bu...