DAUN
DI UJUNG RANTING
DAUN DIJUNG RANTING ITU
Maka tunggulah daun itu “sayang” sampai angin melepaskan dari
rantingnya dan jatuh didepan rumahmu yang nyaris lumpuh itu,jika sudah tiba
saatnya:aku akan datang kedalam matamu yang tenang layaknya telaga dan aku
ambil kedua matamu lalu aku letakkan dimtaku supaya aku dan kau menyatu dalam
cipta Tuhan seperti ranting mencintai daun
AKU MENCINTAIMU
Aku mencintaimu seperti akar mencintai batang,seperti batang
mencintai ranting,seperti ranting mencintai daun,seperti daun mencintai
getah,lantas seperti apa cintamu kepadaku....?
LIHATLAH DAUN DI LUAR RUMAHMU
Maka lihatlah daun di luar rumahmu yang diam menatap wajahmu
angin tak mampu menegornya dan burung-burung tak berani menyapanya lalu kenapa kau tak segera menjelma suara
untuk menyapanya...?
DAUN YANG JATUH
Telah tiba saatnya:daun yang hijau kini kering kembali,angin
yang resah telah menjatuhkanya kewajah bumi dan serbuk-serbuk debu telah membawanya
kerahim bumi
Tiba-tiba kau datang dengan nyanyian resahkan hati
Dan aku bertanya “kenapa kau datang ketika daun jatuh...?”
lantas kau menjawab dengan kepala tertunduk “aku datang karena panggilan yang
tak terdengar waktu jua kau”
MELETAKKAN TOPI HITAM DI JENDELA
Tak ada angin tak ada ombak tiba-tiba kau meletakkan topi
hitam di jendela kamarku dengan begitu hati-hati,iringan angin menyapa kita dan
kita saling tatap- tatapan tanpa suara
tanpa gerak bahkan tanpa kedipan mata,hingga akhirnya suara pecah di antara
kita “lihatlah daun hijau itu dan lihat pula daun yang layu dan daun yang telah
jatu?” seharusnya kita berkaca dan sadar