Di pertengan malam, suara percekcokan pecah tiba-tiba
dibalik dinding. Dengan rasa penasaran aku intip percekcokan itu, ternyata
pertengkaran tak lain adalah suami istri yang mengadu argumen. Sang istri
mempertanyakan cintanya pada dirinya dan sang suami menyakinkannya bahwa ia
mencintainya dengan tulus. Dengan suara lantang suami berkata.
Tidakkah kau
lihat lampu dadaku
Cinta bersemi
seperti musim
Memujimu karena Tuhan yang menitipkanmu padaku
Lantas biarkan
aku mencintaimu karena-Nya
Sampai kita datang pada-Nya dengan
membawa cinta suci
Tiba-tiba
suara lantang itu bisu, hanya saja terdengar suara tangis yang pilu. Dan
mendesak sang Istri mengucapkan seribu maaf, barangkali ia sadar akan ucapan
sang suami bahwa ia mencintainya karena Tuhan.
Abd Azis Ana
&
Asa Suzhanty
Bandung, 2019