JARI TERLUKA
BY : ABD AZIS
BANDUNG,2013
![]() |
| Add caption |
ADA KATA
Bangun dari mimpi
Aku lihat jari-jari terkunci dari kesepian
Ada kata di dalam ataupun diluar yang tak
mampu di katakan
PANGGILAN
Tadi malam,tubuh dan matamu sama heningnya
Tajam
melirik ke tubuhku yang berdiri dingin
kau panggil aku dari persimpangan malam
Dan akupun memanggil Tuhan untuk merangkulmu
JILBAB
Jilbab dan matamu sama heningnya
Kau paggil aku dari jari yang tak ku mengerti
Dan kupanggil kau dalam angin yang mendesir
dipori-porimu
DI LUAR
Kau
sentuh jemariku yang dingin mati
Lalu
kau tinggalkan dengan bekas yang tak bisa diterjemahkan
Hanya
saja kesepian berkata diluar sadar
TAWAR
Kulihat
kau diujung jari yang tergores luka
Dan
kau hanya tersenyum manja kearah wajahku yang nyaris tertunduk,lantas aku
berbisik dalam duka “kenapa kau tawarkan senyum sementra jariku tak lagi kau cium”
NASIB
Kemaren
lusa
Kau
masih menyentuh jemariku yang keriput karena cangkul
Pelan
kau telag garis-garis telapak tanganku
Sambil
kau katakan “nasibmu telah tertulis di daun”
Sedikit,aku
melirikmu sambil kubisikkan hal yang sama
ANGAN
Didalam
kamar yang sunyi
Kau letakkan
ragamu diatas kasur yang kusut,tapi tidak dengan anganmu
Dengan rindu
kau elus-elus bekas jarinya dibantal yang penuh dengan peta kecil
Lalu kau
cium bau yang tak nyata dan lekas kau pejamkan mata
BEKAS
Jari-jarimu yang lembut menimpa kemataku
Menutupi pandanganku kelangit,aku tak melihat bintang selain
bintangmu
Aku mulain bersiul merdu diantra angin malam
Tapi kau tarik lagi jarimu dan kau tinggalkan bekas memar
KEMATIAN
Dulu,lembut kau sentuh jemariku
Seperti sang ibu menyentuh bayinya
Tapi kenyataannya,kau tinggalkan jemariku disini dengan
luka-luka
Dan membiarkan darahnya terus mengalir keujung kematian
LUKA
JARI
Sepertinya luka yang kau salipkan diujung jariku
Sakit,perih itu yang terasa
Sementara jarimu memeluk jari yang lain
KEKUATAN
Sunyi yang kau bisikkan di cela-cela garis tangan,adalah
kebangkitan kekuatan untuk menancapkan kebahagiaan jiwa
DIAMLAH
JARIKU
Diamlah jari-jariku
Malam takkan mendengarkan jeritmu ditengah-tengah pengasingan
ini kecuali kau tulus menjerit dalam sujud doa-doamu
Diamlah jari-jariku
Mereka takkan mendengar jerit gelisahmu
Sebab mereka telah mabuk dengan angur-anggur yang telah
tersaji di meja luas dan mereka telah menyibukkan diri dari kesunyian jiwa
Tolong diamlah dan tetap kau memutar jarimu yang terluka
karna cinta,karena sesungguhnya cinta menempati dua tempat yang berbeda jua
sama,yang satu ia menempati ditempat derita dan yang kedua ia menempati
ditempat bahagia
PENGATAHUAN
Kita telah temukan jari kita masing-masing
Maka jangan berhenti menghitung jari yang telah
tercipta,meski pada hakikatnya hati kita bosan menghitung,sesungguhnya setiap
hitungan adalah pengatahuan yang rahasia yang tak ditemukan oleh jiwa kita
RAHASIA
Setiap jari-jari ada garis dan setiap garis adalah
pengatahuan yang rahasia
JARI
Bagaimana
aku bisa melihat jari-jarimu yang indah itu....?
Sementara
jariku belum aku temukan dan belum aku hitung satu persatu
TASBIH
Bagaimana
aku bisa menyentuh jari-jarimu...?
Sementara
jariku sendiri tak pernah aku sentuh dengan butir tasbih yang melingkar diatas
tikar
JARI
CINTA
Aku harus
katakan rasa ini lewat jari-jari yang
tak bisa dimengerti oleh jiwa tanpa cinta
Maka
dengarkanlah bisik pelanku ditelinga kecilmu bahwa jariku telah menedekat
kejarimu untuk menyatu dalam keindahan cinta
DOA
CINTA
Jangan kau
tinggalkan jariku disini dengan keadaan memar dan luka
Jika kau lakukan hal itu,maka darah ini akan mengalir
untuk mengucapkan doa pengorbanan cinta
KEKASIH HAYAL
Oh,kekasih
hayalku yang cantik layaknya bidadari surga,engkau datang dengan jubah putih
dan berdiri disampingku sambil kau berbisik “akulah yang kau cintai” dan aku
jawab dengan jiwa “dan akulah yang kau cintai jua”
REL
Jadi, aku
temukan kau di rel dengan wajah memucat dan bangku tunggu yang mati
Lalu aku
dekatkan jariku untuk memebelai rambutmu yang matipula
Aduh......"serumu"
Tuhan telah
memelukku "katanya"
HIDUPKEMBALI
Kau terus
melukis wajahmu dibayang malam
Dari sudut
kesudut kau terus mencakar
Hingga jari
yang mati hidup kembali dan kau dekatkan kejari yang lain hingga menyatu dalam
angka yang sama
JIWA
KOSONG DAN JIWA CINTA
Telah
dibisikkan oleh engkau dicela-cela jariku yang nyaris mati
Jiwa yang
kosong adalah penghancur jiwa-jiwa yang
lain
Sedangkan
jiwa-jiwa cinta adalah penguat untuk jiwa-jiwa yang lain
Telah
dibisikkan oleh engkau dicela-cela jariku yang nyaris mati
JIWA
KOSONG DAN JIWA CINTA
Jiwa yang
kosong adalah penghancuran jiwa-jiwa yang lain
Sedangkan
jiwa-jiwa cinta adalah penguat untuk jiwa-jiwa yang lain
DEKAT
Telah kau
bsikkan jantung yang bergetar dalam raga"Tuhan dekat dan malaikat dekat
pula" layaknya jari-jari yang tak lepas dari raga
CERMEN
Telah
kukatakan kepada jari-jarimu yang keriput itu "kita akan kembali kepada
cermen"
Dan kita
akan jumpai wajah masing-masing dalam tengkurap
Lalu kita
akan saling menafsirkan satu sama lain
DITEMUKAN
Suatu saat
kita akan jumpai jari kita masing -masing dan kita akan temukan jari yang telah
lelah atau mungkin yang sudah mati,lalu kita akan teteskan gerimis dicela
langit yang tak musim lagi
WAKTU
Seperti yang
diceritakan kemaren oleh bibir manismu "bukan kita yang berpisah tapi
waktu yang memisahkan kita dan suatu saat waktu pula yang akan mempertemukan
kita diujung jalan dan mata kita saling bertatapan dan jari-jari kita mulain
menghitung angka yang terbuang"
GERIMIS
TUHAN
Gerimis telah datang dipintu rumahmu
dan membasahi halaman rumahmu, aku lihat kau berjalan pintu ke pintu lalu kau
singgah di depan yesus, kau tampak tersenyum ketika doa-doa dicurahkan di depan
yesus. Aku dengar doa apa yang kau panjatkan, “Jangan biarkan Ia menderita ataupun tersesat dalam cinta” lantas akupun tersenyum mendengar doa yang ia panjatkan kepada
Tuhannya, lalu kau berdiri dan mendekatiku seperti budak ke tuannya, lekas kau
berkata “kenapa kau hanya berdiri di
pintu Tuhan?” dan aku menjawab dengan cinta “tidak, ini bukan pintu Tuhanku
tapi pintu Tuhanmu dan itu bukan Tuhanku tapi Tuhanmu. Akan tetapi, cinta yang
bersarang di dada kita adalah anugerah dari Tuhanmu jua anugerah dari Tuhanku
maka, jangan mempermasalahkan tentang agama kita karena manusia dimata Tuhan
sama saja. Tapi, hanya saja apa yang disembahnya berbeda.
SULAP
Sangat jelas
sayang,hal yang tak ada menjadi ada dan hal yang ada menjadi tak ada,apa
mungkin itu sebuah sulap yang diajarkan dibatin kita atau mungkin kebodohan
yang memaksa kita percaya hingga akal sehat kita langsung mengatakan “iya”
WAJAH KITA
Suatu saat kita akan tengkurap dalam satu titik dan kita akan
temukan diri kita masing-masing dalam keadaan linglung dan tenang
MALAM
Malam,telah berbisik di ujung jari yang nyaris mati seperti
pangku tunggu direl,ia berbisik merdu seperti kekasih “bagunlah dari
matimu,sebab malam ini adalah malam doamu”
NAMA-NAMA
Masihkah kau menyebut nama yang telah mati,terkubur
dalam-dalam dan pintu-pintu rumahnya terkunci untuk kau masuki...?
Masihkah kau memaksa masuk dan tidur diranjang yang telah tua
dan mengeja masa-masa yang telah ditelan waktu...?
Sementara kakimu terus menjauh dari mata yang terbatas
ini,dan kau sisakan bekas kakimu di setapak jalanku,dan burung-burung liar
berterbangan diudara tanpa nama
MATA INDAH
Biarkan aku melihat matamu yang indah itu,bukankah kemaren
kau tawarkan dengan bahasa tubuhmu dan merayuku dengan jarimu yang nakal
itu,lalu kau biarkan bekas memar begitu saja
Bisakah aku tawar lagi dan aku minta jangan pergi...?
PATUNG
Bukankah aku telah pahat patung yang serupa dengan wajahmu
dan meletakkanya disamping pembaringanmu “sayang” tapi entah kenapa suaramu tak
aku dengar dan tak lagi memanggil namaku
Apakah sepi teklah kunci dadamu atau mungkin telingaku yang
tuli
LANGIT
Bisikmu disuatu petang “kemarilah sayang,marilah kita saling
menyentuh jari-jari kita yang nyaris rapuh,barangkali dengan menyatukan jari
kita,kita akan kembali utuh seperti kemaren itu lalu lekas kita hitung
bintang-bintang dilangit sebelum siang memanggilnya kembali”
RINDU DILANGIT
Sayang,lihatlah langit yang luas tanpa tiang,burung-burung
menyusun kata-kata saat senja,ombak dilaut tenang mempermainkan ikan dan
karang,lantas dengarkan dadaku yang kian memar lantaran rindu yang tersalip,telengkan
telingamu “sayang” didadaku yang terus berbisik hingga kau dengar jeritan
tangis dilangit tanpa tiang ini.
DARI JARI RINDUMU
Dari garis jarimu sayang,rindumu memanggil dadaku yang sepi
lalu kau tarik mataku yang jauh untuk mendekat,mencium bau tanganmu
Lantas,aku temukan kau tengkurap dalam sungkenm iba,sambil
kau tawarkan rindumu kerumput-rumput liar dan menerbangkanya bersama
angin.tanpa sengaja ia singga didada telanjang
DARI MATAMU
Dari matamu aku lihat musim kian berganti,dan menamakan
dirinya sebagai rindu hati
Dari dasar laut ia
memanggil-manggil cintanya,ada bau kemenyan yang lepas dari raganya entah
karena apa...?
Yang menjauh
Tak lepas ia panggil dan dicumbunya
KETIKA SUBUH
Ketika subuh memanggil mati,sandal jepit tergeletak didepan
rumah Allah,ia pasrah dalam harap
Didalam rumah Allah,aku lihat kopiah macam-macam,aku lihat
baju macam dan aku lihat pula sarung yang macam-macam tapi hatinya tak
macam-macam
SUBUH HILANG
Ketika subuh hilang ditelan surya jari yang sepi tak lagi
berjalan dibutir tasbih,ia menggantikanya dengan cangkul,arit dan sebuah wadah
rumput,ia berkeliaran dimana-mana seperti burung-burung mencari makan
KACA MATA DIMATAMU
Seperti yang dulu sayang,kaca mata itu masih menempel
dimatamu yang sabun bahkan kau memanjakannya dengan belayan angin
pamekasan,kenapa kau tak buang saja kaca itu dari matamu dan ganti dengan
bintang kecil atau mungkin kau titipkan saja keangin sore dan lepaskan
diaspal-aspal hitam.
Kini aku datang,bukan sekedar mengantarkan rindu ataupun
sajak yang bermain diimajinasi tapi aku datang untuk meniupkan doa yang tak
dimengerti oleh dadamu.
Aku tak perlu kau mengerti sayang bahkan aku tak perduli kau
mengerti tentang apa yang aku bawa disore ini,maka lekas kau menjelma dewa dan
aku akan menjelma angin lalu kita satukan sayap-sayap kita untuk berkeliling
diawan
lantas,biarkan saja jejak kita menempel di jalan setapak dan
nama-nama kita terhempas angin resah
lalu biarkan mereka mengambilnya dan meletakkannya disaku
mereka karena kita tak perlu nama lagi
KUBURAN
Mentari menciup keningku jua patokmu yang tegeletak di
wajah-wajah bumi,dadamu yang kenyang terus kau pamerkan di bawah langit tua
sambil kau lantangkan suara mati “bukankah kalian tercipta dari tanah,maka
ciumlah patok yang memanggil-manggil namamu” lantas aku cium sambil aku
bisikkan bahasa yang tak dimengerti malaikat
SENJA DI MUSIM RAMBUT WANITA TUA ITU
Telah aku raba senja di musim rambutmu “sayang” supaya kau
betah dalam musim yang akan menjemputmu untuk kembali kepelukan kematian,maka
lekaslah kau berbisik keujung jari yang baru tumbuh itu karena aku takut ia
luka mengikatkanya
PUISI
Hembusan angin telah mengantarkan puisiku diujung rambutmu
yang tua itu dan setiap hela berguguran rindu yang menjelma doa malam
bisu,lantas kau perkenalkan dirimu dibayang-bayang layaknya angin mencium
dedaunan
Seperti juga diriku :aku perkenalkan dadaku yang kenyang
karena rindu lalu menetes gerimes-gerimes kecil untuk mengantarkan keistana
Tuhan.maka marilah, jangan biarkan puisi
kita mati dalam abad ini
DAUN DIJUNG RANTING ITU
Maka tunggulah daun itu “sayang” sampai angin melepaskan dari
rantingnya dan jatuh didepan rumahmu yang nyaris lumpuh itu,jika sudah tiba
saatnya:aku akan datang kedalam matamu yang tenang layaknya telaga dan aku
ambil kedua matamu lalu aku letakkan dimtaku supaya aku dan kau menyatu dalam
cipta Tuhan seperti ranting mencintai daun
JARI DI UJUNG MALAM
Aku:aku hitung jariku yang tertinggal angin malam dan burung-burung
bersiul tentang sajak malam,lantas aku
