NYANYIANNYA
KARYA INI
SAYA PERSEMBAHKAN KEPADA AYAH
BY :ABD AZIS
DITULIS:BANDUNG,2013
BENCI
Berengsek...
Kau yang
dimalasia
Berengsek....
Kau yang
dikalimantan
Berengsek....
Aku yang
dibandung
Seringkali
kita menyakitinya dalam kata
Seringkali
kita menyakitinya dalam parkara
Padahal ia
selalu menyanyikan doa dalam sujudnya
Menahan
amarah dalam dada
Supaya kita
tetap akur layaknya jari dengan jari
Maka lekas
kita sungkem dihadapannya
DOA DARINYA
(Karya ini
untuk ayah)
Subuh kau
hidup dalam pelukan azan
Embun yang
bening peluk daun yang dingin
Menikmati
lantunan azan yang merobek cela-cela langit
Kau yang
bagun dari mati
Tegak kau
berdiri meski lelah dalam hari
Kopiah hitam
Baju
setengah kusut
Sarung
tetap-tetap saja seperti itu
Kau duduk
disajadah Tuhan
Menghitung
butir-butir tasbih
Kepala
sambil kau geleng-gelengkan
Lalu kau
sebut nama-nama anakmu dalam tangis
Aku dengar
itu.....
Kau menyebut
nama yang menjadi darah dan dagingmu
WAKTU DAN
KAU
Matamu yang
cekung memandang waktu nan jauh
Dan kau
takkan menyerah dilangkahmu sendiri
Dan takkan
mati didalam
Sebab
keringatmu adalah doa yang bersayap malaikat
Kau terus
berdiri
Menahan rasa
lelah dinafasmu
Menahan caci
dari bibir kebibir
Andai saja
aku adalah kau mungkin aku mati dalam putus asa
Sungguh kau
adalah waktu dan waktu adalah kau
KAU DAN
ENGKAU
Kau adalah
raga dan engkau adalah nafas
Maka aku tak
bisa bebas dalam kebebasan setan
Kau adalah
kertas dan engkau adalah pena
Maka aku tak
bisa bercerita tanpa ceritamu
Kau adalah
mentari dan engkau adalah cahaya
Maka aku tak
bisa mekar tanpa sinar cahayamu
Kau adalah
purnama dan engkau adalah sempurna
Maka aku tak
bisa melihat tanpa sempurnamu
Kau dan
engkau adalah satu
Dan aku
adalah milikmu
LANGKAHMU
Kau terus
melangkah
Melangkah
untuk anak-anakmu dirumah
Dari desa
kau kekota sampang
Meski hujan
dan panas sedang menunggu diujung jalan
Kau seperti
tak mau perduli
Kau
tunjukkan langkahmu kemataku
Langkahmu
itu
Membuat aku
bermimpi
Langkahmu itu
Membuat aku
nekat merantau
Langkahmu
itu
Membuat aku
meneru gaya kepahlawananmu
Aku tiru apa
yang ada dalam dirimu
Hingga
gayamu menyatu dalam nafasku
KAU DEKAT
Kau yang
jauh
Kau yang
jauh
Dan aku yang
jauh
Tapi
nyanyianmu begitu dekat
Seperti kulit
dengan dengan daging
Nyanyianmu
merasuk dalam raga
Kudengar
nyanyianmu di ujung malam
Memuji dan
merayu Tuhan
Layaknya
bayi dalam pelukan sang ibu
Sementara
aku...
Aku diam
dalam matiku
Aku yang
nyaris ragu
Melirik
matamu yang terbuka jauh
Lambat laun
kau hidupkan matiku
Hingga aku
tahu arti nyanyian tangismu
BISIKAN
HATIMU
Tiap hari
kulihat tepung dipundak
Merangkul
hari dalam ibadah
Tanpa keluh
kau terus seperti itu
Keringat
yang bening
Bercampur
dengan tepung dipundak anak istrimu
Aku yang
yang kecil “dulu”
Tak perduli
dengan keadaanmu
Tapi kau
terus tawarkan senyum dimataku
Kau yang
diam dan aku melihat
Mendekat
sambil memeluk tubuhku
Aku
merasakan juga mendengar tentang bisikan kecilmu
Bisikan itu
jelas sekali
Meski
mulutmu diam terkunci
Aku tahu itu
ayah
Aku tahu apa
itu ayah
Aku tahu apa
artinya itu ayah
BIANGLALA
DIPUNDAKMU
Dari dulu
sampai sekarang
Masih saja
bianglalamu seperti itu
Bersinar
Berwarna
Bercahaya
Heran aku
melihatnya
Padahal
musim rambutmu telah berubah
Dan musimku
juga
Tapi
bianglalamu tetap singgah dipundak rajamu
Barangkali
malaikat telah permaninkan
Kenapa
tidak....!
Kau mampu
bernafas untuk 12 itupun lebih
Hingga 12
itu ada yang jauh adapula yang dekat
DALANG
Meski aku
terlahir dari sang ibu
Tapi namamu
ada dibab pertama
Bersanding
dengan nama ibu
Dan aku
hanyalah wayang didoamu
Dan kau
adalah dalang dihidupku
Maka aku tak
meragukan atas doa-doamu
Dan aku tak
meragukan atas cerita-ceritamu
Sebab aku
adalah wayang dan kau adalah dalang
TERMINAL
SAMPANG
Kemaren kau
lepaskan pelukanmu di terminal
Lalu kau
menjauh dari pandangan mata
Aku melihat
kau dari dekat ataupun jauh
Dengan kolor
penuh tepung
Kaos kusut
di gantung dipundakmu
Dan kulit
hitam keriput lantaran aku
Aku melihat
kau menoleh kearahku
Lalu
tanganmu yang tua melambai pelan
Dan aku
tangkap angin yang berbisik doa
Aku tak
melihat lagi
Kau lenyap
di sekat-sekat gang rumah
Akupun
menyelenyapkan diri dalam langkah mimpi
MALAM
Malam dimanatamu
Tak pernah kau matikan dirimu
Walau mata dunia telah terlelap dalam
pelukan malam
Kau masih saja seperti itu
Mengintip cela langit yang terbuka
Kau tak mati
Menarik-narik butir yang melengket
dicela jarimu
Dan garis tanganmu
Tak pernah kau perdulikan walau itu
nyata
SIANG
Perlahan kau lepaskan malam dimatamu
Dan kau tingkalkan bekas pertapaan
tadi malam
Butir-butir tasbih kau letakkan
disajah Tuhan
Lalu kau berlalu seperti biasanya
Kau melangkah menuju terminal sampang
Melupakan beban yang ada dirumah
Kau terus melupa tapi tidak dengan
dada yang tersalip wajah
Kau berlagak tak ada apa-apa
Sementara dadamu tak mampu kau jegah
untuk menyanyi kesedihan
Meski kau menyebukkan diri dengan
siang
Aku tahu kau...
Kau adalah malam ketika malam
Kau adalah siang ketika siang
Tapi aku tak pernah tahu doa-doa yang
kau sembunyikan dimatamu itu
NISAN
Wajahmu tanpak resah
Mata yang binar,cekung karena tangis
Mulutmu yang diam,pecah karena darah
dagingmu terkubur
Kau terus teteskan doa dari cela mata
dan mulutmu
Kau terus seperti itu
Dari pagi hingga senja tenggelamkan
malam
Aku tak tahu tentang dadamu
Yang aku tahu kau telah disangka tak
waras oleh tetangga
Tapi aku menyangka,kau adalah
malaikat penjaga
Aku yang sampingmu dari tadi
Diam terpaku melihat tetesmu
Hanya saja telinga yang nyaris tuli
tiba-tiba tertusuk tangis
Mataku melotot
Dan kau peluk nisan yang terdiam mati
Lalu aku dengar bisikan dari pori
hitammu”ayah selalu didekatmu”
Kaupun berlalu seperti aku
dibelakangnya
KAKI TELANJANG
Langkah demi langkah tak pernah kau
hitung
Garis-garis telapak kaki kian melebar
Debu,kerikil,lalang,tak pernah kau
perdulikan
Meski telah bersarang dicela-cela
garis telapak kakimu
Jari-jari kakimu yang rapuh
Tetap mencengram bumi yang tua
Kulit yang hitam
Rambut yang uban
Mata yang mencekung
Tetap saja kau berjalan telanjang
kaki demi darah dagingmu
NYANYIAN JENDELA MALAMMU
Angin mendesir dicela-cela jendelamu
Mengetuk malam yang nyaris tertidur
Ada tangis “sepi”
Berbisik disekat-sekat pohon jati
Diluar jendela ada sepi
Didalam rongga dada ada kata
Nyanyian malammu gemetar karena wajah
Nyanyian malamu berontak karena rindu
Kau tahu “hal yang ada dan tak ada”
Lantas kau bangkit dari sepi
Dan kau nemu “senja” tenggelam
Mungkin :kau sadar
SENJA YANG KABUR
Senja akan pergi
Meninggalkan tempat yang bosan
Dan patokpun telah menunggu dipinggir
jalan
Cela telah memberimu bekas sunyi
Senja telah tiada
Tinggal kita berdua yang tersisa
Kitapun duduk dikursi yang tua
Mulut kita saling bercerita pada malam-malam
muda
Langit yang bercahaya
Bintang yang berkedip manja
Kita telah sadar dengan musim
dirambut kita
Lusa atau:giliran kita
PURNAMA DI ATAS PATOK
Pelan,kau melangkah dijalan setapak
Menuju patok-patok yang telah diam
mati dipurnama
Mata yang bening seperti embun,keruh
dengan air mata
Angin yang bersiul
Tak mampu menghibur hati yang rindu
Bintang yang manja
Tak mampu memanjakan hati yang resah
Purnama yang indah
Tak mampu indahkan hati yang gelap
Puisi yang tenang
Tak mampu tenangkan hati yang mati
Kau seperti tak mau perduli
Hingga,mantra malaikat sadarkan
imajinasimu
Dan purnama lenyap diatas patok
Hannya bekas saja
JARIMU DAN
Kain kafan telah melilit ditubuhnya
Lubang hidung dan telinga telah rapat
kafas
Wajah dan bibir tenang dalam tidur
indah
Dan kau....!
Kau masih mainkan jarimu disela-sela
matinya
Dan bibirmu yang keriput cium bibir
yang beku
Kau tak lagi teteskan resah dileting
matamu
Melainkan kau nyanyikan doa keihlasan
Lalu kau berbisik pelan dalam
tidurnya “ayah mencintaimu”
Lantas kau berdiri sambil takbir jua
aku
RAMBUT MALAM
Kemaren,selesai magrib
Kau membelai rambut anak malam yang
menimpa kewajahmu
Dan jemarimu yang lelah merabanya
Kau terus seperti tak waras
Mencium bibir,dahi dan wajah tak
bernafas
Lalu kau tundukkan kepala disamping
raga
Layaknya musafir yang kalah dengan
waktu
Kau terus tertunduk
Sementra dipojok sana istrimu menagis
melihatmu bukan melihatnya
Kau tak sadar apa mungki bukan waktunya
