KAU DAN AKU
Baru saja
aku temukan nafasmu diangin yang telah mati,angin pagi,angin siang,angin
sore,angin malam bahkan di dalam nafasku
Barangkali
kau adalah aku dan aku adalah kau
PULANG
KEPAGI
Pagi-pagi
telah aku lihat kau pulang kepagi yang tentram ini padahal tadi malam aku lihat
kau di dadar tipis dan di selokan dan di gang-gang kota yang mati
Tadi malam
aku lihat wajahmu yang berbentuk tua dan muda,apa mungkin kau adalah dua
jenis...?
KATAMU
Katamu:matanya
rembulan,hidungnya rembulan,telinganya rembulan,mulutnya rembulan,rambutnya
rembulan
Katamu
pula;wajahnya rembulan,bahunya rembulan,pundaknya rembulan,tanganya
rembulan,pinggulnya rembulan,kakinya rembulan
Tapi
kataku:yang di pelihara itu domba
IA MENAMAKAN
KENANGAN
Wanita tua
itu menemukan ia tergeletak di sudut-sudut kota yang nyaris tak dikenal lagi,wanita
itu lekas mengambil dan menaruhnya dalam saku yang bau keringat lantara
mondar-mandir di bawah mentari sambil berkicau wanita itu menawarkan temuanya
keorang yang asyik duduk sambil menghisap rokok “barang temuan aku obrol,barang
temuan ini aku namakan kenangan buat perutku yang bernyanyi kelaparan maka
belilah” tanpa kata lelaki tua itu pergi
seraya membanting buntung rokonya kelantai dan wanita tua itu kembali
menawarkan di lampu merah.
BUKU TUA
Lihatlah
aku,dan tetap bersamaku dalam cerita ini,sebab malaikat akan jua bercerita
kepada Tuhan
Aku ambil
buku tua dalam sakuku yang kusut itu lalu lekas aku tulis namamu dan namaku
dalam baris satu supaya tak tertukar dengan yang lain
Andaikan aku
tulis semuanya,mungkin kau tak kuasa lari dari pengawasan sajakku
BANGUNLAH
BIDADARI RANJANG
Bangunlah
bidadari ranjang,kita telah selesai tidur nyenyak, marilah kita lihat di luar
rumh barangkali kita melihat daun dengan embun yang sedang bercinta di pagi
buta ini.
Jika kita
melihatnya jangan sekali-kali kau ganggu dengan bisikan ataupun getaran dadamu
karena ia lebih tajam dari pada kita yang baru lahir bercinta
MENGHENTIKAN
ANGIN UNTUK MU
Aku hentikan
angin yang meresahkan dadamu itu dan aku ikat dengan jaring yang telah aku buat
tadi malam
Jika ia
berontak.....
Aku paksa ia
masuk dalam botol kecil dan aku lemparkan ketengah laut yang angkuh,jika ia tak
mau aku kutuk ia menjadi batu seperti MALIN KUNDANG yang di kutuk sang ibunya
DI GANG-GANG
TUA ITU
Di gang-gang
tua itu ada lelaki tua sedang duduk dengan sebatang rokok basah,ia berkali-kali
menyalakan korek dengan jari yang bergetar kedinginan.
Tak kuasa
menahan dingin lelaki tua itu lekas membaringkan tubuhnya di atas kardus yang
ia tumpuk sebagai kasur empuk,dengan pelan matanya mulain di tutup dan berusaha
melupakan kejamnya perjalanan dan angkuhnya manusia di sekitar matanya pelan ia
berbisik di atas kardus “tidurlah mata yang lelah sebab di sekitar tak lagi
punya cinta,marilah kita temui Tuhan dan kita tagih janji-janjinya”
TUHAN
TEMUKAN KU
Aku kira
Tuhan tak menemukanku dan tak menegor gerak-gerak yang dilarang,tapi
kenyataanya Tuhan menemukanku meski aku sembunyi di cela-cela yang tak terlihat
dan Tuhan menegorku dengan sopan dan lembut
PESAN UNTUK
TUHAN
Ternyata:ia
telah bagun bersama embun yang menetes di pagi ini dan meninggalkan pesan untuk
Tuhan yang baru saja membangunkannya,
CERITA DI
TEMPAT SAMPAH
Lelaki tua
itu merayu istrinya yang sedang bersedih hati lantaran baru bangun tidur tak
mendapatkan sesuap nasi
Lantas
lelaki tua itu mendekatkan bisikannya di telinga istrinya “sayang,kau adalah
bidadariku yang menemaniku di surga yang penuh dendam dan kebencian ini dan kau
pula yang mampu memahami keadaanku dan menerima kekuranganku,maka marilah kita
kutuk sampah-sampah ini menjadi sesuap nasi barangkali kita bisa
melakukanya,jika tidak,biarkan Tuhan yang mengutukkanya untuk kita,jika itu
mustahil,maka pejamkanlah mata kita sayang, siapa tahu ketika mata kita terbuka
dunia berubah surga abadi dan kita abadi pula”
MARILAH KITA
DUDUK DI DEKAT SAMPAH INI
Seorang
istri bertanya kepada suaminya “sayang apa yang kau lihat di sana tadi sore
itu..?” suamipun menjawab dengan wajah tersenyum “aku melihat seorang wanita
yang berjilbab hijau dan baju batik yang melilit indah di setiap tubuh wanita
itu sayang” lantas istripun segera merayu suaminya dengan wajah lelah
“sayang,marilah kita duduk di dekat sampah ini dan marilah kita pandang
bayangan kita masing-masing,bukankah kita ini hanya sekedar bayang di tengah
malam”
“Bukankah
begitu sayang...?”
AKU MELIHAT
JANUR MELENGKUNG
Aku melihat
janur kuning di pintu rumahmu,aku melihat janur itu telah melengkung rapi,angin
mulain menjauh dan sinar matahari membakar asaku yang terpendam dalam dadaku,
Sayang,dari
dinginnya janur-janur kuning itu telah melupakan sisa-sisa percakapan kita di
dekat sungai itu
Doa yang
tentram menyertaimu,dari sekian lama,dari sekian nafas dan dari bayang-bayang
menghilang melupakan kita selamanya,maka hendak kau cintai ia seperti aku
mencintaimu
KITA TEMUKAN
BAU DI TEMPAT INI
Dari kemaren
kita telah temukan bau busuk di tempat ini sayang,tapi kalau kita tak bersekutu
dengan bau busuk ini tentu kita takkan temukan nasi di balik-baliknya,
Dari matamu
yang bening itu,aku mampu menamakan diriku sebagai pengabdian dan sedangkan kau
aku namakan kenangan meski bau busuk telah bercumbu dengan kulit kita
KEPADA
KOTA-KOTA
Dari
sudut-sudut kota lelaki itu berjalan dengan pelan bersama doa-doa yang tak
terdegar,kepada kota yang berdenyut kencang entah karena resah entah karena
bosan, tapi aku titip peasan kepada kota tua “hendaklah kau sabar dan lapangkan
dadamu dan hendaklah tahan nanamu yang kian muntah”
KITA TULIS
SAJA SEPI INI DI DADA KITA
Lebih baik
kau diam dari pada mukamu luka,biarkan aku saja yang berteriak di antra mereka
yang penuh iri hati,jika mereka tak mendengar ataupun pura-pura tak mendenagr.
Kita tulis
saja sepi ini di dada kita masing-masing dan biarkan malam memanggil sepi ini
dan mata malam kian melihat kita dengan mata telanjang
DI SEBUAH
PINTU TUA
Di sebuah
pintu tua kota,kita duduk bersama dan saling tukar-menukar ide.
Bisiknya
“mau kemanakan kaleng-kaleng ini kawan...?”
Lantas di
antara kita menjawab “lebih baik kita jual dan jadikan sesuap nasi dan
lau-launya atau mungkin kita biarkan saja di depan kita dan tunggu sampai menjadi
nasi”
KITA
BISIKKAN INI DI TEMPAT INI
Dari pada
kau menunggu senja tenggelam,lebih baik kau bisikan ini di tempat ini supaya
tak basi,aku tahu,kau takkan bisikka ini di tempat kotor ini tapi kita sudah
tak punya hari lagi sayang,
Hari kemaren
itu hayalah bayangan dan hari esok hanya sebuah pikiran,maka cepatlah kau
bisikan ini di tempat ini sebab yang kita punya hanyalah hari ini sayang.
ADA YANG
LUPA
Ada yang
lupa,entah aku entah mukaku entah bayanganku entah pikiranku
Entahlah........?
PILIHAN KITA
Kita telah
memilih tempat ini untuk kita tidurin semalaman sayang,janganlah kau bisikkan
keresahan atau mengaduh pada Tuhanmu sebab Tuhan tak senang mendengar bisikan
dadamu yang lemah itu.
Biarkan
tempat ini yang akan mencatat gerak dan bisikan kita selama kita singgah di
tempat ini,
Dan biarkan
pula malaikat yang akan menceritakan tentang kita kepada Tuhan sayang,karena
malaikat adalah malaikat kita dan ia takkan menghianati kita
LAMPU KITA
Lihatlah
lampu kita sayang.ia bersinar indah tampa kabel atau tiang-tiang listrik,ia
bersinar untuk orang-orang semacam kita yang tak punya atap ataupun jendela
yang terbuka separuh.
Orang
semacam kita hanya mampu berhayal tinggi,berhayal punya rumah indah lengkap
dengan taman bunga dan anak-anak kita bermain petak umpet dengan kupu-kupu
kecil
Tapi kita
tetaplah bersyukur kepada Tuhan yang menciptakan semua ini.
Maka
lihatlah sayang......
Lihatlah
lampu itu sayang,kita sungguh kaya malam ini karena orang rumah takkan punya
lampu semacam ini
MALAM-MALAM
Marilah kita
bercinta malam ini sayang,meski angin malam membekukan cinta kita tapi tidak
dengan dada kita yang berdenyut kencang,
Lantas apa
yang kau ragukan lagi....?
Sementara
malam-malam telah tidur bersama dada tak bercinta dan malam-malam kita adalah
malam cimta
SEPERTI DI
PERSIMPANGAN
Aku juluki
kau seniman yang liar karena kau perna berbisik di telingaku yang sedang tuli
“kita ini seperti persimpangan kawan,meski pun begitu setidaknya kau mampir
dulu dan minum kopi atau segelas teh dan menyalakan sebatang rokok untuk kau
nikmati”
AJAL KITA
Akankah ajal
kita ada di sini sayang,
Terkubur
bersama sampah atau mungkin malam-malam yang akan mengubur raga kita,
Kita mulain
kenal kecemasan yang menyapa di antara antrian mereka ia melipat-lipat wajah
kita dan di asingkan di tempat yang belum kita kenal,
Sebelum kita
di asingkan:lihatlah wajahku dan kau hafalkan baik-baik sayang barangkali kita
berjumpa lagi
BISIKAN
SEORANG PEMULUNG KEPADA TUHAN
Lelaki itu menjerit
kesakitan seperti keledai di terkam singa,
Ini aku
Tuhan,ini aku Tuhan,ini aku Tuhan dan ini milik-Mu
Maka
dengarkanlah bisikanku di hadapan-Mu dan kabulkan permintaanku seperti kau
mengabulkan perpintaan kekasih-Mu
Bandung,2013
KETIKA MALAM
TIBA
Ketika malam
tiba ia berjalan ketempat persinggahan perut kosong sambil ia memeluk karung
yang telah kotor dan bau sampah.
Sepeti tak
menghiraukan bunyi sepatu yang selalu menemaninya di sepanjang jalan,ia hanya
menerka-nerka dalam benaknya “barangkali lampu besar ataupun lampu kecil masih
menyala untukku,untuk jalan-jalan gelapku” tiba-tiba pikiranya kembali lenyap
lantas ia menarik nafas dalam-dalam lalu di keluarkan pelan-pelan seraya ia
berbisik “selamat malam kesunyian,aku tahu kau selalu menyapa siapapun termasuk
semacam diriku ini,maka aku tak heran lagi kecemasan memanggil-manggil di
telingaku yang lumayan tuli ini”
Bandung,14-09-2013
TENGAH MALAM
“sayang”
jalan-jalan telah gelap,lampu telah tak menyala lagi untuk kita sapa tapi angin
terus saja memanggil-manggil namaku untuk bermain dalam kesunyian.
Akupun
panggil namamu ketika angin berhenti memanggil namaku barangkali kau mendengar
Jika
tidak.........
Lekas kau
lenyap dalam dadaku karena masih banyak
nama-nama yang belum aku panggil
BUNGA KERTAS
Lihatlah
bunga-bunga kertas di langit-langit kamar mu sayang,
Barangkali
masih ada kenangan di cela-celanya atau mungkin bintang yang samar oleh mata
indahmu
Ingatkah kau
sayang.....?
Bunga kertas
yang aku lipat waktu itu,adalah kertas yang aku ambil dari tempat tong sampah
di dekat rumahmu
Jika masih
ingat:bisikkan suara indahmu di dekatnya barangkali ia hidup dan tak pernah
mati
Bandung,2013
KITA SAMA-SAMA
BERBISIK
Marilah kita
saling berbisik,dari telinga kiri ketelinga kanan,siapa tahu malaikat tak
mendengar apa yang kita bisikkan ini.
Jika
sekiranya malaikat mendengar “tak usa kita berbisik karena bisikan kita adalah
rahasia hati”
Bandung,2013
LIPATAN
KERTAS PUTIH
Ingatkah kau
sayang waktu itu...?
Hujan turun
di tengah-tengah perjalanan kita menuju rumah kertas
Kita pandang
ilalang yang kedinginan,pohon-pohon basah kuyuk seperti baju kita yang tak bisa
di keringkan dalam satu jam
Tak ada yang
menyaksikanya di kala itu hanya saja lipatan kertas putih yang basah
pula,barangkali ia sempat menyimpan kenangan kita
Kelak jika
kita lupa atau pikun:tanyalah kertas itu
Bandung,2013
KITA NAMAKAN
Kita namakan
ini kenangan
Kenangan
yang tertulis atau tak tertulis
Jika
kenangan ini tertulis:biarkan mereka yang membacanya dan menceritakan kepada
anak-anaknya
Jika
kenangan ini tak tertulis:biarkan pula mereka yang menceritakanya lewat mulut
kemulut
Bandug,2013
MARI KITA
SAKSIKAN
Mari kita
saksikan debu-debu yang berterbangan dan
jatuh entah kemana
Mari kita
saksikan musim semi dan musim-musiman
Mari kita
saksikan dan kita akan kembali lagi keasal kita
Mari kita
saksikan lebih lama dan lebih jauh lagi
maka kita akan jumpai
Bandung,2013
TANPA APA PUN
mereka
jumpai malam-malam dengan kemanjaan baju tidur,kasur,bantal,seperai,jendela,pintu
dan korden-korden yang indah melambai di setiap sudut kamar
sementara
kita sayang,kita hanya jumpai malam dengan sapaan kesepian tanpa baju
tidur,tanpa kasur,tanpa bantal,tanpa seperai,tanpa jendela,tanpa pintu,tanpa
korden-korden
tapi kita
santai saja di pelukan malam dan dinginya angin sepertinya kita telah biasa
dengan kebiasaan malam.
Bandung,2013
