DI SEBUAH JENDELA
Di sebuah jendela
Kau terus saja diam di
jendela malam.meski angin mengetuk pintu-pintu sepi mu dan atap-atap kekal
melihat mu dan bintang lancang mengintip wajah mu.
Saat itu pun aku mendekat
kearah mata mu seperti cahay bintang yang menembus dinding retak rumah mu.
Lalu aku lihat memar di
matamu barangkali itu adalah bekas kemaren atau abad yang lalu
Bandung,28/09/2013
DI RUANG TAMU
Di ruang tamu kita saling
diam-diaman seperti percakapan kemaren yang putus di pertengahan
jalan.tiba-tiba saja angin pecah di bibirmu dan berbentuk suara gaib “kita
telah di pertemukan kembali di ruang tamu ini,atap yang kering lantaran panas
adalah saksi pertemuan kita,dinding yang retak adalah saksi kebisuan kita,jam
yang terus berdetak adalah saksi gerak tubuh kita,lampu yang tak kunjung mekar
adalah saksi yang kekal”
Maka dari mata kitalah.kita
terus mengusir keraguan dan keresahan.bukankah begitusayang
Bandung,30/09/2013
AKU DI DADA MU
Dari sepi mata mu
Aku temukan luka yang memar
Setiap kali kutatap
mtamu,aku ingin menciptakan sajak untukmu
Sajak tentang kabut
keresahan,tentang air mata yang tak kunjung datang di cela mata mu
Bintang dan rembulan tak
mampir di matamu
Hanya saja angin selalu diam
di ujung rambut mu
Lalu pergi tanpa mengetuk
pintu-pintu matimu
Lekas aku mendekat dan
menyelam di dadamu “kau lihat aku bukan”
Mungkin aku adalah malaikat
untuk menjagamu,atau mungkin seta yang habis memakan dada mu
Bandung,30/09/2013
AIR MATA
“Ini air mata yang jatuh
kedaun dada mu” bisik mu
Sementara aku diam di sudut
ruang tamu dengan gelas-gelas kosong
Kau menghampiri ku dengan
bisikan serupa “ini air mata yang jatuh kedaun dada mu” lantas aku melirik
wajah mu yang memar merah
Mungkin wajah mu sedang
marah atau mungkin wajah mu sedang merayu ku
Ah tidak.....
Aku tahu betul watak mu
Lebih baik aku mati dari
pada kau mengajak ku kedalam kamar dan merayu dengan air mata mu itu
Aku tahu betul,di dalam
kamar ada bekas kita yang sedang luka
Sayang.lebih baik kita diam
saja di ruang tamu ini dan menik mati cangkir-cangkir yang kosong barangkali
malaikat datang dan menawarkan sesuatu atau mungkin para pesulap itu datang dan
menawarkan tipu daya
Duduklah sayang
Tunggu mereka datang
Bandung,30/09/2013
RINTIK HUJAN
Kembalilah sayang
Kembalilah kedalam kamar
yang penuh debu ini,bekas kita tadi malam dan lepaskan alas kaki mu untuk
sejenak saja
Agar aku dapat membasuh kaki
mu dengan air hangat
Lalu pejamkanlah mata mu di
atas ranjang tua ini
Pejamkanlah sebab di luar
rumah rintik hujan telah tiba
Pejamkanlah
Biarkan rintik hujan
membasahi atap kita
Biarkan ia menyanyi untuk
menghibur kita
Biarkan ia berkeliaran di
ranting pepohonan
Biarkan ia mengintip kita di
jendela kamar kita
“Tak perduli” bisik ku
ketelinga mu
Kita ini adalah tetesan
darinya.tetesan untuk membasahi rahim-rahim “bukankah begitu sayang”
Ah,kau ternyata kau telah
tidur,pantas saja kau tak menjawab
Tapi tak apa-apa sayang
Setelah kau bangun
“lihatlah”
Berkas-berkas puisi di meja
kamar mu
“Lihatlah sayang”barangkali
kau akan tetap bersama ku sampai ajal mencium bau tubuh kita disini
Bandung,30/09/2013
KURSI DI TERAS
Duduklah di sampingku sayang
Mangrib sebentar lagi
menjelma malam dan meninggalkan cerita yang belum selesai kita ceritakan pada
lembar-lembar daun angin
Duduklah di kursi ini dan
biarkan malaikat penjaga mencatat apa yang kita bisikkan
Lantas jangan pernah kau
ragukan lagi sayang,sebab aku merasakan getar sabda dada mu yang dalam itu.
Maka duduklah di sampingku
dan dengarkan apa yang hendak aku titipkan kemata mu yang pucat itu dan kursi
di teras ini adalah malaikat yang tak di temukan oleh siapapun kecuali kita
Bandung,30/09/2013
MATA PURNAMA
Di mata purnama aku tak
ingin mengeluh
Meski luka tercipta di dada
dan mekar di setiap sudut-sudut tubuhku
Di mata purnama aku tak
ingin berdarah
Meski pada hakikatnya dadaku
berdarah dan penuh nanah yang bau busuk
Di mata purnama aku ingin
menangis
Meski pada dasarnya aku
menangis tapi aku tak ingin menangis sebab aku tercipta lelaki besi
Bukankah telah kau titipkan
malaikat di setiap sekat-sekat dada dan memakunya dengan kuat-kuat
Jadi aku tak ingin,aku tak
ingin
Aku tak ingin menangis di
mata purnama
Bandung,30/09/2013
