Sabtu, 05 Oktober 2013



DI SEBUAH JENDELA
Di sebuah jendela
Kau terus saja diam di jendela malam.meski angin mengetuk pintu-pintu sepi mu dan atap-atap kekal melihat mu dan bintang lancang mengintip wajah mu.
Saat itu pun aku mendekat kearah mata mu seperti cahay bintang yang menembus dinding retak rumah mu.
Lalu aku lihat memar di matamu barangkali itu adalah bekas kemaren atau abad yang lalu
Bandung,28/09/2013


DI RUANG TAMU
Di ruang tamu kita saling diam-diaman seperti percakapan kemaren yang putus di pertengahan jalan.tiba-tiba saja angin pecah di bibirmu dan berbentuk suara gaib “kita telah di pertemukan kembali di ruang tamu ini,atap yang kering lantaran panas adalah saksi pertemuan kita,dinding yang retak adalah saksi kebisuan kita,jam yang terus berdetak adalah saksi gerak tubuh kita,lampu yang tak kunjung mekar adalah saksi yang kekal”

Maka dari mata kitalah.kita terus mengusir keraguan dan keresahan.bukankah begitusayang

Bandung,30/09/2013

AKU DI DADA MU
Dari sepi mata mu
Aku temukan luka yang memar
Setiap kali kutatap mtamu,aku ingin menciptakan sajak untukmu
Sajak tentang kabut keresahan,tentang air mata yang tak kunjung datang di cela mata mu

Bintang dan rembulan tak mampir di matamu
Hanya saja angin selalu diam di ujung rambut mu
Lalu pergi tanpa mengetuk pintu-pintu matimu

Lekas aku mendekat dan menyelam di dadamu “kau lihat aku bukan”
Mungkin aku adalah malaikat untuk menjagamu,atau mungkin seta yang habis memakan dada mu
Bandung,30/09/2013




AIR MATA
“Ini air mata yang jatuh kedaun dada mu” bisik mu

Sementara aku diam di sudut ruang tamu dengan gelas-gelas kosong
Kau menghampiri ku dengan bisikan serupa “ini air mata yang jatuh kedaun dada mu” lantas aku melirik wajah mu yang memar merah
Mungkin wajah mu sedang marah atau mungkin wajah mu sedang merayu ku
Ah tidak.....
Aku tahu betul watak mu
Lebih baik aku mati dari pada kau mengajak ku kedalam kamar dan merayu dengan air mata mu itu
Aku tahu betul,di dalam kamar ada bekas kita yang sedang luka
Sayang.lebih baik kita diam saja di ruang tamu ini dan menik mati cangkir-cangkir yang kosong barangkali malaikat datang dan menawarkan sesuatu atau mungkin para pesulap itu datang dan menawarkan tipu daya

Duduklah sayang
Tunggu mereka datang
Bandung,30/09/2013


RINTIK HUJAN
Kembalilah sayang
Kembalilah kedalam kamar yang penuh debu ini,bekas kita tadi malam dan lepaskan alas kaki mu untuk sejenak saja
Agar aku dapat membasuh kaki mu dengan air hangat
Lalu pejamkanlah mata mu di atas ranjang tua ini
Pejamkanlah sebab di luar rumah rintik hujan telah tiba
Pejamkanlah
Biarkan rintik hujan membasahi atap kita
Biarkan ia menyanyi untuk menghibur kita
Biarkan ia berkeliaran di ranting pepohonan
Biarkan ia mengintip kita di jendela kamar kita
“Tak perduli” bisik ku ketelinga mu
Kita ini adalah tetesan darinya.tetesan untuk membasahi rahim-rahim “bukankah begitu sayang”
Ah,kau ternyata kau telah tidur,pantas saja kau tak menjawab
Tapi tak apa-apa sayang
Setelah kau bangun “lihatlah”
Berkas-berkas puisi di meja kamar mu
“Lihatlah sayang”barangkali kau akan tetap bersama ku sampai ajal mencium bau tubuh kita disini
Bandung,30/09/2013
KURSI DI TERAS
Duduklah di sampingku sayang
Mangrib sebentar lagi menjelma malam dan meninggalkan cerita yang belum selesai kita ceritakan pada lembar-lembar daun angin

Duduklah di kursi ini dan biarkan malaikat penjaga mencatat apa yang kita bisikkan

Lantas jangan pernah kau ragukan lagi sayang,sebab aku merasakan getar sabda dada mu yang dalam itu.
Maka duduklah di sampingku dan dengarkan apa yang hendak aku titipkan kemata mu yang pucat itu dan kursi di teras ini adalah malaikat yang tak di temukan oleh siapapun kecuali kita

Bandung,30/09/2013








MATA PURNAMA
Di mata purnama aku tak ingin mengeluh
Meski luka tercipta di dada dan mekar di setiap sudut-sudut tubuhku

Di mata purnama aku tak ingin berdarah
Meski pada hakikatnya dadaku berdarah dan penuh nanah yang bau busuk

Di mata purnama aku ingin menangis
Meski pada dasarnya aku menangis tapi aku tak ingin menangis sebab aku tercipta lelaki besi

Bukankah telah kau titipkan malaikat di setiap sekat-sekat dada dan memakunya dengan kuat-kuat
Jadi aku tak ingin,aku tak ingin
Aku tak ingin menangis di mata purnama
Bandung,30/09/2013






Perjuangan Tenaga Kerja Wanita dalam Meraih Cita-Cita

Judul Buku             : TKW Mencari Surga Penulis Buku                        : Asa Suzhanty & Abd Azis Ana Penerbit Bu...