Rabu, 14 Agustus 2013

DAUN DI UJUNG RANTING

DAUN DIJUNG RANTING ITU
Maka tunggulah daun itu “sayang” sampai angin melepaskan dari rantingnya dan jatuh didepan rumahmu yang nyaris lumpuh itu,jika sudah tiba saatnya:aku akan datang kedalam matamu yang tenang layaknya telaga dan aku ambil kedua matamu lalu aku letakkan dimtaku supaya aku dan kau menyatu dalam cipta Tuhan seperti ranting mencintai daun

AKU MENCINTAIMU
Aku mencintaimu seperti akar mencintai batang,seperti batang mencintai ranting,seperti ranting mencintai daun,seperti daun mencintai getah,lantas seperti apa cintamu kepadaku....?

LIHATLAH DAUN DI LUAR RUMAHMU
Maka lihatlah daun di luar rumahmu yang diam menatap wajahmu angin tak mampu menegornya dan burung-burung tak berani menyapanya  lalu kenapa kau tak segera menjelma suara untuk menyapanya...?
DAUN YANG JATUH
Telah tiba saatnya:daun yang hijau kini kering kembali,angin yang resah telah menjatuhkanya kewajah bumi dan serbuk-serbuk debu telah membawanya kerahim bumi

Tiba-tiba kau datang dengan nyanyian resahkan hati
Dan aku bertanya “kenapa kau datang ketika daun jatuh...?” lantas kau menjawab dengan kepala tertunduk “aku datang karena panggilan yang tak terdengar waktu jua kau”

MELETAKKAN TOPI HITAM DI JENDELA
Tak ada angin tak ada ombak tiba-tiba kau meletakkan topi hitam di jendela kamarku dengan begitu hati-hati,iringan angin menyapa kita dan kita saling tatap- tatapan  tanpa suara tanpa gerak bahkan tanpa kedipan mata,hingga akhirnya suara pecah di antara kita “lihatlah daun hijau itu dan lihat pula daun yang layu dan daun yang telah jatu?” seharusnya kita berkaca dan sadar


Selasa, 13 Agustus 2013



JARI TERLUKA

BY : ABD AZIS
BANDUNG,2013
Add caption
 
ADA KATA
Bangun dari mimpi
Aku lihat jari-jari terkunci dari kesepian
Ada kata di dalam ataupun diluar yang tak mampu di katakan


PANGGILAN
Tadi malam,tubuh dan matamu sama heningnya
 Tajam melirik ke tubuhku yang berdiri dingin
kau panggil aku dari persimpangan malam
Dan akupun memanggil Tuhan untuk merangkulmu

JILBAB
Jilbab dan matamu sama heningnya
Kau paggil aku dari jari yang tak ku mengerti
Dan kupanggil kau dalam angin yang mendesir dipori-porimu

DI LUAR
Kau sentuh jemariku yang dingin mati
Lalu kau tinggalkan dengan bekas yang tak bisa diterjemahkan
Hanya saja kesepian berkata diluar sadar


TAWAR
Kulihat kau diujung jari  yang tergores luka
Dan kau hanya tersenyum manja kearah wajahku yang nyaris tertunduk,lantas aku berbisik dalam duka “kenapa kau tawarkan senyum  sementra jariku tak lagi kau cium”

NASIB
Kemaren lusa
Kau masih menyentuh jemariku yang keriput karena cangkul
Pelan kau telag garis-garis telapak tanganku
Sambil kau katakan “nasibmu telah tertulis di daun”
Sedikit,aku melirikmu sambil kubisikkan hal yang sama

ANGAN
Didalam kamar yang sunyi
Kau letakkan ragamu diatas kasur yang kusut,tapi tidak dengan anganmu
Dengan rindu kau elus-elus bekas jarinya dibantal yang penuh dengan peta kecil
Lalu kau cium bau yang tak nyata dan lekas kau pejamkan mata


BEKAS
Jari-jarimu yang lembut menimpa kemataku
Menutupi pandanganku kelangit,aku tak melihat bintang selain bintangmu
Aku mulain bersiul merdu diantra angin malam
Tapi kau tarik lagi jarimu dan kau tinggalkan bekas memar

KEMATIAN
Dulu,lembut kau sentuh jemariku
Seperti sang ibu menyentuh bayinya
Tapi kenyataannya,kau tinggalkan jemariku disini dengan luka-luka
Dan membiarkan darahnya terus mengalir keujung kematian

LUKA JARI
Sepertinya luka yang kau salipkan diujung jariku
Sakit,perih itu yang terasa
Sementara jarimu memeluk jari yang lain
KEKUATAN
Sunyi yang kau bisikkan di cela-cela garis tangan,adalah kebangkitan kekuatan untuk menancapkan kebahagiaan jiwa


DIAMLAH JARIKU
Diamlah jari-jariku
Malam takkan mendengarkan jeritmu ditengah-tengah pengasingan ini kecuali kau tulus menjerit dalam sujud doa-doamu
Diamlah jari-jariku
Mereka takkan mendengar jerit gelisahmu
Sebab mereka telah mabuk dengan angur-anggur yang telah tersaji di meja luas dan mereka telah menyibukkan diri dari kesunyian jiwa
Tolong diamlah dan tetap kau memutar jarimu yang terluka karna cinta,karena sesungguhnya cinta menempati dua tempat yang berbeda jua sama,yang satu ia menempati ditempat derita dan yang kedua ia menempati ditempat bahagia

PENGATAHUAN
Kita telah temukan jari kita masing-masing
Maka jangan berhenti menghitung jari yang telah tercipta,meski pada hakikatnya hati kita bosan menghitung,sesungguhnya setiap hitungan adalah pengatahuan yang rahasia yang tak ditemukan oleh jiwa kita

RAHASIA
Setiap jari-jari ada garis dan setiap garis adalah pengatahuan yang rahasia
JARI
Bagaimana aku bisa melihat jari-jarimu yang indah itu....?
Sementara jariku belum aku temukan dan belum aku hitung satu persatu

TASBIH
Bagaimana aku bisa menyentuh jari-jarimu...?
Sementara jariku sendiri tak pernah aku sentuh dengan butir tasbih yang melingkar diatas tikar

JARI CINTA
Aku harus katakan  rasa ini lewat jari-jari yang tak bisa dimengerti oleh jiwa tanpa cinta
Maka dengarkanlah bisik pelanku ditelinga kecilmu bahwa jariku telah menedekat kejarimu untuk menyatu dalam keindahan cinta

DOA CINTA  
Jangan kau tinggalkan jariku disini dengan keadaan memar dan luka
Jika kau  lakukan hal itu,maka darah ini akan mengalir untuk mengucapkan doa pengorbanan cinta




KEKASIH HAYAL
Oh,kekasih hayalku yang cantik layaknya bidadari surga,engkau datang dengan jubah putih dan berdiri disampingku sambil kau berbisik “akulah yang kau cintai” dan aku jawab dengan jiwa “dan akulah yang kau cintai jua”

REL
Jadi, aku temukan kau di rel dengan wajah memucat dan bangku tunggu yang mati
Lalu aku dekatkan jariku untuk memebelai rambutmu yang matipula
Aduh......"serumu"
Tuhan telah memelukku "katanya"

HIDUPKEMBALI
Kau terus melukis wajahmu dibayang malam
Dari sudut kesudut kau terus mencakar
Hingga jari yang mati hidup kembali dan kau dekatkan kejari yang lain hingga menyatu dalam angka yang sama

JIWA KOSONG DAN JIWA CINTA
Telah dibisikkan oleh engkau dicela-cela jariku yang nyaris mati
Jiwa yang kosong adalah penghancur  jiwa-jiwa yang lain
Sedangkan jiwa-jiwa cinta adalah penguat untuk jiwa-jiwa yang lain
Telah dibisikkan oleh engkau dicela-cela jariku yang nyaris mati

JIWA KOSONG DAN JIWA CINTA
Jiwa yang kosong adalah penghancuran jiwa-jiwa yang lain
Sedangkan jiwa-jiwa cinta adalah penguat untuk jiwa-jiwa yang lain

DEKAT
Telah kau bsikkan jantung yang bergetar dalam raga"Tuhan dekat dan malaikat dekat pula" layaknya jari-jari yang tak lepas dari raga


CERMEN
Telah kukatakan kepada jari-jarimu yang keriput itu "kita akan kembali kepada cermen"
Dan kita akan jumpai wajah masing-masing dalam tengkurap
Lalu kita akan saling menafsirkan satu sama lain

DITEMUKAN
Suatu saat kita akan jumpai jari kita masing -masing dan kita akan temukan jari yang telah lelah atau mungkin yang sudah mati,lalu kita akan teteskan gerimis dicela langit yang tak musim lagi



WAKTU
Seperti yang diceritakan kemaren oleh bibir manismu "bukan kita yang berpisah tapi waktu yang memisahkan kita dan suatu saat waktu pula yang akan mempertemukan kita diujung jalan dan mata kita saling bertatapan dan jari-jari kita mulain menghitung angka yang terbuang"

GERIMIS TUHAN
Gerimis telah datang dipintu rumahmu dan membasahi halaman rumahmu, aku lihat kau berjalan pintu ke pintu lalu kau singgah di depan yesus, kau tampak tersenyum ketika doa-doa dicurahkan di depan yesus. Aku dengar doa apa yang kau panjatkan, “Jangan biarkan Ia menderita ataupun tersesat dalam cinta”  lantas akupun tersenyum  mendengar doa yang ia panjatkan kepada Tuhannya, lalu kau berdiri dan mendekatiku seperti budak ke tuannya, lekas kau berkata “kenapa kau hanya berdiri di pintu Tuhan?” dan aku menjawab dengan cinta “tidak, ini bukan pintu Tuhanku tapi pintu Tuhanmu dan itu bukan Tuhanku tapi Tuhanmu. Akan tetapi, cinta yang bersarang di dada kita adalah anugerah dari Tuhanmu jua anugerah dari Tuhanku maka, jangan mempermasalahkan tentang agama kita karena manusia dimata Tuhan sama saja. Tapi, hanya saja apa yang disembahnya berbeda.




SULAP
Sangat jelas sayang,hal yang tak ada menjadi ada dan hal yang ada menjadi tak ada,apa mungkin itu sebuah sulap yang diajarkan dibatin kita atau mungkin kebodohan yang memaksa kita percaya hingga akal sehat kita langsung mengatakan “iya”


WAJAH KITA
Suatu saat kita akan tengkurap dalam satu titik dan kita akan temukan diri kita masing-masing dalam keadaan linglung dan tenang

MALAM
Malam,telah berbisik di ujung jari yang nyaris mati seperti pangku tunggu direl,ia berbisik merdu seperti kekasih “bagunlah dari matimu,sebab malam ini adalah malam doamu”








NAMA-NAMA
Masihkah kau menyebut nama yang telah mati,terkubur dalam-dalam dan pintu-pintu rumahnya terkunci untuk kau masuki...?

Masihkah kau memaksa masuk dan tidur diranjang yang telah tua dan mengeja masa-masa yang telah ditelan waktu...?

Sementara kakimu terus menjauh dari mata yang terbatas ini,dan kau sisakan bekas kakimu di setapak jalanku,dan burung-burung liar berterbangan diudara tanpa nama


MATA INDAH
Biarkan aku melihat matamu yang indah itu,bukankah kemaren kau tawarkan dengan bahasa tubuhmu dan merayuku dengan jarimu yang nakal itu,lalu kau biarkan bekas memar begitu saja
Bisakah aku tawar lagi dan aku minta jangan pergi...?

PATUNG
Bukankah aku telah pahat patung yang serupa dengan wajahmu dan meletakkanya disamping pembaringanmu “sayang” tapi entah kenapa suaramu tak aku dengar dan tak lagi memanggil namaku
Apakah sepi teklah kunci dadamu atau mungkin telingaku yang tuli

LANGIT
Bisikmu disuatu petang “kemarilah sayang,marilah kita saling menyentuh jari-jari kita yang nyaris rapuh,barangkali dengan menyatukan jari kita,kita akan kembali utuh seperti kemaren itu lalu lekas kita hitung bintang-bintang dilangit sebelum siang memanggilnya kembali”

RINDU DILANGIT
Sayang,lihatlah langit yang luas tanpa tiang,burung-burung menyusun kata-kata saat senja,ombak dilaut tenang mempermainkan ikan dan karang,lantas dengarkan dadaku yang kian memar lantaran rindu yang tersalip,telengkan telingamu “sayang” didadaku yang terus berbisik hingga kau dengar jeritan tangis dilangit tanpa tiang ini.

DARI JARI RINDUMU
Dari garis jarimu sayang,rindumu memanggil dadaku yang sepi lalu kau tarik mataku yang jauh untuk mendekat,mencium bau tanganmu

Lantas,aku temukan kau tengkurap dalam sungkenm iba,sambil kau tawarkan rindumu kerumput-rumput liar dan menerbangkanya bersama angin.tanpa sengaja ia singga didada telanjang



DARI MATAMU
Dari matamu aku lihat musim kian berganti,dan menamakan dirinya sebagai rindu hati
Dari dasar laut  ia memanggil-manggil cintanya,ada bau kemenyan yang lepas dari raganya entah karena apa...?
Yang menjauh
Tak lepas ia panggil dan dicumbunya

KETIKA SUBUH
Ketika subuh memanggil mati,sandal jepit tergeletak didepan rumah Allah,ia pasrah dalam harap
Didalam rumah Allah,aku lihat kopiah macam-macam,aku lihat baju macam dan aku lihat pula sarung yang macam-macam tapi hatinya tak macam-macam

SUBUH HILANG
Ketika subuh hilang ditelan surya jari yang sepi tak lagi berjalan dibutir tasbih,ia menggantikanya dengan cangkul,arit dan sebuah wadah rumput,ia berkeliaran dimana-mana seperti burung-burung mencari makan




KACA MATA DIMATAMU
Seperti yang dulu sayang,kaca mata itu masih menempel dimatamu yang sabun bahkan kau memanjakannya dengan belayan angin pamekasan,kenapa kau tak buang saja kaca itu dari matamu dan ganti dengan bintang kecil atau mungkin kau titipkan saja keangin sore dan lepaskan diaspal-aspal hitam.

Kini aku datang,bukan sekedar mengantarkan rindu ataupun sajak yang bermain diimajinasi tapi aku datang untuk meniupkan doa yang tak dimengerti oleh dadamu.

Aku tak perlu kau mengerti sayang bahkan aku tak perduli kau mengerti tentang apa yang aku bawa disore ini,maka lekas kau menjelma dewa dan aku akan menjelma angin lalu kita satukan sayap-sayap kita untuk berkeliling diawan

lantas,biarkan saja jejak kita menempel di jalan setapak dan nama-nama kita terhempas angin resah
lalu biarkan mereka mengambilnya dan meletakkannya disaku mereka karena kita tak perlu nama lagi





KUBURAN
Mentari menciup keningku jua patokmu yang tegeletak di wajah-wajah bumi,dadamu yang kenyang terus kau pamerkan di bawah langit tua sambil kau lantangkan suara mati “bukankah kalian tercipta dari tanah,maka ciumlah patok yang memanggil-manggil namamu” lantas aku cium sambil aku bisikkan bahasa yang tak dimengerti malaikat

SENJA DI MUSIM RAMBUT WANITA TUA ITU
Telah aku raba senja di musim rambutmu “sayang” supaya kau betah dalam musim yang akan menjemputmu untuk kembali kepelukan kematian,maka lekaslah kau berbisik keujung jari yang baru tumbuh itu karena aku takut ia luka mengikatkanya

PUISI
Hembusan angin telah mengantarkan puisiku diujung rambutmu yang tua itu dan setiap hela berguguran rindu yang menjelma doa malam bisu,lantas kau perkenalkan dirimu dibayang-bayang layaknya angin mencium dedaunan

Seperti juga diriku :aku perkenalkan dadaku yang kenyang karena rindu lalu menetes gerimes-gerimes kecil untuk mengantarkan keistana Tuhan.maka marilah,  jangan biarkan puisi kita mati dalam abad ini


DAUN DIJUNG RANTING ITU
Maka tunggulah daun itu “sayang” sampai angin melepaskan dari rantingnya dan jatuh didepan rumahmu yang nyaris lumpuh itu,jika sudah tiba saatnya:aku akan datang kedalam matamu yang tenang layaknya telaga dan aku ambil kedua matamu lalu aku letakkan dimtaku supaya aku dan kau menyatu dalam cipta Tuhan seperti ranting mencintai daun

 JARI DI UJUNG MALAM
Aku:aku hitung jariku yang tertinggal angin malam dan burung-burung bersiul tentang sajak malam,lantas aku


















                                                                              








Minggu, 28 Juli 2013

NYANYIANNYA






NYANYIANNYA


KARYA INI SAYA PERSEMBAHKAN KEPADA AYAH
BY  :ABD AZIS
DITULIS:BANDUNG,2013






BENCI

Berengsek...
Kau yang dimalasia
Berengsek....
Kau yang dikalimantan
Berengsek....
Aku yang dibandung
Seringkali kita menyakitinya dalam kata
Seringkali kita menyakitinya dalam parkara
Padahal ia selalu menyanyikan doa dalam sujudnya
Menahan amarah dalam dada
Supaya kita tetap akur layaknya jari dengan jari
Maka lekas kita sungkem dihadapannya








DOA DARINYA
(Karya ini untuk ayah)

Subuh kau hidup dalam pelukan azan
Embun yang bening peluk daun yang dingin
Menikmati lantunan azan yang merobek cela-cela langit

Kau yang bagun dari mati
Tegak kau berdiri meski lelah dalam hari
Kopiah hitam
Baju setengah kusut
Sarung tetap-tetap saja seperti itu

Kau duduk disajadah Tuhan
Menghitung butir-butir tasbih
Kepala sambil kau geleng-gelengkan
Lalu kau sebut nama-nama anakmu dalam tangis

Aku dengar itu.....
Kau menyebut nama yang menjadi darah dan dagingmu


WAKTU DAN KAU

Matamu yang cekung memandang waktu nan jauh
Dan kau takkan menyerah dilangkahmu sendiri
Dan takkan mati didalam
Sebab keringatmu adalah doa yang bersayap malaikat

Kau terus berdiri
Menahan rasa lelah dinafasmu
Menahan caci dari bibir kebibir
Andai saja aku adalah kau mungkin aku mati dalam putus asa
Sungguh kau adalah waktu dan waktu adalah kau










KAU DAN ENGKAU

Kau adalah raga dan engkau adalah nafas
Maka aku tak bisa bebas dalam kebebasan setan

Kau adalah kertas dan engkau adalah pena
Maka aku tak bisa bercerita tanpa ceritamu

Kau adalah mentari dan engkau adalah cahaya
Maka aku tak bisa mekar tanpa sinar cahayamu

Kau adalah purnama dan engkau adalah sempurna
Maka aku tak bisa melihat tanpa sempurnamu

Kau dan engkau adalah satu
Dan aku adalah milikmu






LANGKAHMU

Kau terus melangkah
Melangkah untuk anak-anakmu dirumah
Dari desa kau kekota sampang
Meski hujan dan panas sedang menunggu diujung jalan
Kau seperti tak mau perduli

Kau tunjukkan langkahmu kemataku
Langkahmu itu
Membuat aku bermimpi
Langkahmu itu
Membuat aku nekat merantau
Langkahmu itu
Membuat aku meneru gaya kepahlawananmu
Aku tiru apa yang ada dalam dirimu
Hingga gayamu menyatu dalam nafasku





KAU DEKAT

Kau yang jauh
Kau yang jauh
Dan aku yang jauh
Tapi nyanyianmu begitu dekat
Seperti kulit dengan dengan daging

Nyanyianmu merasuk dalam raga
Kudengar nyanyianmu di ujung malam
Memuji dan merayu Tuhan

Layaknya bayi dalam pelukan sang ibu

Sementara aku...
Aku diam dalam matiku
Aku yang nyaris ragu
Melirik matamu yang terbuka jauh
Lambat laun kau hidupkan matiku
Hingga aku tahu arti nyanyian tangismu


BISIKAN HATIMU
Tiap hari kulihat tepung dipundak
Merangkul hari dalam ibadah
Tanpa keluh kau terus seperti itu

Keringat yang bening
Bercampur dengan tepung dipundak anak istrimu

Aku yang yang kecil “dulu”
Tak perduli dengan keadaanmu
Tapi kau terus tawarkan senyum dimataku

Kau yang diam dan aku melihat
Mendekat sambil memeluk tubuhku
Aku merasakan juga mendengar tentang bisikan kecilmu

Bisikan itu jelas sekali
Meski mulutmu diam terkunci
Aku tahu itu ayah
Aku tahu apa itu ayah
Aku tahu apa artinya itu ayah

BIANGLALA DIPUNDAKMU

Dari dulu sampai sekarang
Masih saja bianglalamu seperti itu
Bersinar
Berwarna
Bercahaya
Heran aku melihatnya

Padahal musim rambutmu telah berubah
Dan musimku juga

Tapi bianglalamu tetap singgah dipundak rajamu
Barangkali malaikat telah permaninkan

Kenapa tidak....!
Kau mampu bernafas untuk 12 itupun lebih
Hingga 12 itu ada yang jauh adapula yang dekat




DALANG

Meski aku terlahir dari sang ibu
Tapi namamu ada dibab pertama
Bersanding dengan nama ibu

Dan aku hanyalah wayang didoamu
Dan kau adalah dalang dihidupku

Maka aku tak meragukan atas doa-doamu
Dan aku tak meragukan atas cerita-ceritamu
Sebab aku adalah wayang dan kau adalah dalang










TERMINAL SAMPANG

Kemaren kau lepaskan pelukanmu di terminal
Lalu kau menjauh dari pandangan mata

Aku melihat kau dari dekat ataupun jauh
Dengan kolor penuh tepung
Kaos kusut di gantung dipundakmu
Dan kulit hitam keriput lantaran aku

Aku melihat kau menoleh kearahku
Lalu tanganmu yang tua melambai pelan
Dan aku tangkap angin yang berbisik doa

Aku tak melihat lagi
Kau lenyap di sekat-sekat gang rumah
Akupun menyelenyapkan diri dalam langkah mimpi





MALAM

Malam dimanatamu
Tak pernah kau matikan dirimu
Walau mata dunia telah terlelap dalam pelukan malam
Kau masih saja seperti itu

Mengintip cela langit yang terbuka

Kau tak mati
Menarik-narik butir yang melengket dicela jarimu
Dan garis tanganmu
Tak pernah kau perdulikan walau itu nyata








SIANG
Perlahan kau lepaskan malam dimatamu
Dan kau tingkalkan bekas pertapaan tadi malam
Butir-butir tasbih kau letakkan disajah Tuhan
Lalu kau berlalu seperti biasanya

Kau melangkah menuju terminal sampang
Melupakan beban yang ada dirumah
Kau terus melupa tapi tidak dengan dada yang tersalip wajah

Kau berlagak tak ada apa-apa
Sementara dadamu tak mampu kau jegah untuk menyanyi kesedihan
Meski kau menyebukkan diri dengan siang

Aku tahu kau...
Kau adalah malam ketika malam
Kau adalah siang ketika siang
Tapi aku tak pernah tahu doa-doa yang kau sembunyikan dimatamu itu



NISAN
Wajahmu tanpak resah
Mata yang binar,cekung karena tangis
Mulutmu yang diam,pecah karena darah dagingmu terkubur

Kau terus teteskan doa dari cela mata dan mulutmu
Kau terus seperti itu
Dari pagi hingga senja tenggelamkan malam

Aku tak tahu tentang dadamu
Yang aku tahu kau telah disangka tak waras oleh tetangga
Tapi aku menyangka,kau adalah malaikat penjaga

Aku yang sampingmu dari tadi
Diam terpaku melihat tetesmu
Hanya saja telinga yang nyaris tuli tiba-tiba tertusuk tangis
Mataku melotot
Dan kau peluk nisan yang terdiam mati
Lalu aku dengar bisikan dari pori hitammu”ayah selalu didekatmu”
Kaupun berlalu seperti aku dibelakangnya

KAKI TELANJANG

Langkah demi langkah tak pernah kau hitung
Garis-garis telapak kaki kian melebar
Debu,kerikil,lalang,tak pernah kau perdulikan
Meski telah bersarang dicela-cela garis telapak kakimu

Jari-jari kakimu yang rapuh
Tetap mencengram bumi yang tua

Kulit yang hitam
Rambut yang uban
Mata yang mencekung
Tetap saja kau berjalan telanjang kaki demi darah dagingmu







NYANYIAN JENDELA MALAMMU

Angin mendesir dicela-cela jendelamu
Mengetuk malam yang nyaris tertidur
Ada tangis “sepi”
Berbisik disekat-sekat pohon jati

Diluar jendela ada sepi
Didalam rongga dada ada kata

Nyanyian malammu gemetar karena wajah
Nyanyian malamu berontak karena rindu

Kau tahu “hal yang ada dan tak ada”
Lantas kau bangkit dari sepi
Dan kau nemu “senja” tenggelam

Mungkin :kau sadar



SENJA YANG KABUR

Senja akan pergi
Meninggalkan tempat yang bosan
Dan patokpun telah menunggu dipinggir jalan
Cela telah memberimu bekas sunyi

Senja telah tiada
Tinggal kita berdua yang tersisa
Kitapun duduk dikursi yang tua
Mulut kita saling bercerita pada malam-malam muda

Langit yang bercahaya
Bintang yang berkedip manja
Kita telah sadar dengan musim dirambut kita


Lusa atau:giliran kita



PURNAMA DI ATAS PATOK

Pelan,kau melangkah dijalan setapak
Menuju patok-patok yang telah diam mati dipurnama
Mata yang bening seperti embun,keruh dengan air mata

Angin yang bersiul
Tak mampu menghibur hati yang rindu
Bintang yang manja
Tak mampu memanjakan hati yang resah
Purnama yang indah
Tak mampu indahkan hati yang gelap
Puisi yang tenang
Tak mampu tenangkan hati yang mati

Kau seperti tak mau perduli
Hingga,mantra malaikat sadarkan imajinasimu
Dan purnama lenyap diatas patok
Hannya bekas saja


JARIMU DAN

Kain kafan telah melilit ditubuhnya
Lubang hidung dan telinga telah rapat kafas
Wajah dan bibir tenang dalam tidur indah

Dan kau....!
Kau masih mainkan jarimu disela-sela matinya
Dan bibirmu yang keriput cium bibir yang beku

Kau tak lagi teteskan resah dileting matamu
Melainkan kau nyanyikan doa keihlasan
Lalu kau berbisik pelan dalam tidurnya “ayah mencintaimu”
Lantas kau berdiri sambil takbir jua aku







RAMBUT MALAM

Kemaren,selesai magrib
Kau membelai rambut anak malam yang menimpa kewajahmu
Dan jemarimu yang lelah merabanya

Kau terus seperti tak waras
Mencium bibir,dahi dan wajah tak bernafas
Lalu kau tundukkan kepala disamping raga
Layaknya musafir yang kalah dengan waktu

Kau terus tertunduk
Sementra dipojok sana istrimu menagis melihatmu bukan melihatnya
Kau tak sadar apa mungki bukan waktunya

Perjuangan Tenaga Kerja Wanita dalam Meraih Cita-Cita

Judul Buku             : TKW Mencari Surga Penulis Buku                        : Asa Suzhanty & Abd Azis Ana Penerbit Bu...