Minggu, 28 Juli 2013

NYANYIANNYA






NYANYIANNYA


KARYA INI SAYA PERSEMBAHKAN KEPADA AYAH
BY  :ABD AZIS
DITULIS:BANDUNG,2013






BENCI

Berengsek...
Kau yang dimalasia
Berengsek....
Kau yang dikalimantan
Berengsek....
Aku yang dibandung
Seringkali kita menyakitinya dalam kata
Seringkali kita menyakitinya dalam parkara
Padahal ia selalu menyanyikan doa dalam sujudnya
Menahan amarah dalam dada
Supaya kita tetap akur layaknya jari dengan jari
Maka lekas kita sungkem dihadapannya








DOA DARINYA
(Karya ini untuk ayah)

Subuh kau hidup dalam pelukan azan
Embun yang bening peluk daun yang dingin
Menikmati lantunan azan yang merobek cela-cela langit

Kau yang bagun dari mati
Tegak kau berdiri meski lelah dalam hari
Kopiah hitam
Baju setengah kusut
Sarung tetap-tetap saja seperti itu

Kau duduk disajadah Tuhan
Menghitung butir-butir tasbih
Kepala sambil kau geleng-gelengkan
Lalu kau sebut nama-nama anakmu dalam tangis

Aku dengar itu.....
Kau menyebut nama yang menjadi darah dan dagingmu


WAKTU DAN KAU

Matamu yang cekung memandang waktu nan jauh
Dan kau takkan menyerah dilangkahmu sendiri
Dan takkan mati didalam
Sebab keringatmu adalah doa yang bersayap malaikat

Kau terus berdiri
Menahan rasa lelah dinafasmu
Menahan caci dari bibir kebibir
Andai saja aku adalah kau mungkin aku mati dalam putus asa
Sungguh kau adalah waktu dan waktu adalah kau










KAU DAN ENGKAU

Kau adalah raga dan engkau adalah nafas
Maka aku tak bisa bebas dalam kebebasan setan

Kau adalah kertas dan engkau adalah pena
Maka aku tak bisa bercerita tanpa ceritamu

Kau adalah mentari dan engkau adalah cahaya
Maka aku tak bisa mekar tanpa sinar cahayamu

Kau adalah purnama dan engkau adalah sempurna
Maka aku tak bisa melihat tanpa sempurnamu

Kau dan engkau adalah satu
Dan aku adalah milikmu






LANGKAHMU

Kau terus melangkah
Melangkah untuk anak-anakmu dirumah
Dari desa kau kekota sampang
Meski hujan dan panas sedang menunggu diujung jalan
Kau seperti tak mau perduli

Kau tunjukkan langkahmu kemataku
Langkahmu itu
Membuat aku bermimpi
Langkahmu itu
Membuat aku nekat merantau
Langkahmu itu
Membuat aku meneru gaya kepahlawananmu
Aku tiru apa yang ada dalam dirimu
Hingga gayamu menyatu dalam nafasku





KAU DEKAT

Kau yang jauh
Kau yang jauh
Dan aku yang jauh
Tapi nyanyianmu begitu dekat
Seperti kulit dengan dengan daging

Nyanyianmu merasuk dalam raga
Kudengar nyanyianmu di ujung malam
Memuji dan merayu Tuhan

Layaknya bayi dalam pelukan sang ibu

Sementara aku...
Aku diam dalam matiku
Aku yang nyaris ragu
Melirik matamu yang terbuka jauh
Lambat laun kau hidupkan matiku
Hingga aku tahu arti nyanyian tangismu


BISIKAN HATIMU
Tiap hari kulihat tepung dipundak
Merangkul hari dalam ibadah
Tanpa keluh kau terus seperti itu

Keringat yang bening
Bercampur dengan tepung dipundak anak istrimu

Aku yang yang kecil “dulu”
Tak perduli dengan keadaanmu
Tapi kau terus tawarkan senyum dimataku

Kau yang diam dan aku melihat
Mendekat sambil memeluk tubuhku
Aku merasakan juga mendengar tentang bisikan kecilmu

Bisikan itu jelas sekali
Meski mulutmu diam terkunci
Aku tahu itu ayah
Aku tahu apa itu ayah
Aku tahu apa artinya itu ayah

BIANGLALA DIPUNDAKMU

Dari dulu sampai sekarang
Masih saja bianglalamu seperti itu
Bersinar
Berwarna
Bercahaya
Heran aku melihatnya

Padahal musim rambutmu telah berubah
Dan musimku juga

Tapi bianglalamu tetap singgah dipundak rajamu
Barangkali malaikat telah permaninkan

Kenapa tidak....!
Kau mampu bernafas untuk 12 itupun lebih
Hingga 12 itu ada yang jauh adapula yang dekat




DALANG

Meski aku terlahir dari sang ibu
Tapi namamu ada dibab pertama
Bersanding dengan nama ibu

Dan aku hanyalah wayang didoamu
Dan kau adalah dalang dihidupku

Maka aku tak meragukan atas doa-doamu
Dan aku tak meragukan atas cerita-ceritamu
Sebab aku adalah wayang dan kau adalah dalang










TERMINAL SAMPANG

Kemaren kau lepaskan pelukanmu di terminal
Lalu kau menjauh dari pandangan mata

Aku melihat kau dari dekat ataupun jauh
Dengan kolor penuh tepung
Kaos kusut di gantung dipundakmu
Dan kulit hitam keriput lantaran aku

Aku melihat kau menoleh kearahku
Lalu tanganmu yang tua melambai pelan
Dan aku tangkap angin yang berbisik doa

Aku tak melihat lagi
Kau lenyap di sekat-sekat gang rumah
Akupun menyelenyapkan diri dalam langkah mimpi





MALAM

Malam dimanatamu
Tak pernah kau matikan dirimu
Walau mata dunia telah terlelap dalam pelukan malam
Kau masih saja seperti itu

Mengintip cela langit yang terbuka

Kau tak mati
Menarik-narik butir yang melengket dicela jarimu
Dan garis tanganmu
Tak pernah kau perdulikan walau itu nyata








SIANG
Perlahan kau lepaskan malam dimatamu
Dan kau tingkalkan bekas pertapaan tadi malam
Butir-butir tasbih kau letakkan disajah Tuhan
Lalu kau berlalu seperti biasanya

Kau melangkah menuju terminal sampang
Melupakan beban yang ada dirumah
Kau terus melupa tapi tidak dengan dada yang tersalip wajah

Kau berlagak tak ada apa-apa
Sementara dadamu tak mampu kau jegah untuk menyanyi kesedihan
Meski kau menyebukkan diri dengan siang

Aku tahu kau...
Kau adalah malam ketika malam
Kau adalah siang ketika siang
Tapi aku tak pernah tahu doa-doa yang kau sembunyikan dimatamu itu



NISAN
Wajahmu tanpak resah
Mata yang binar,cekung karena tangis
Mulutmu yang diam,pecah karena darah dagingmu terkubur

Kau terus teteskan doa dari cela mata dan mulutmu
Kau terus seperti itu
Dari pagi hingga senja tenggelamkan malam

Aku tak tahu tentang dadamu
Yang aku tahu kau telah disangka tak waras oleh tetangga
Tapi aku menyangka,kau adalah malaikat penjaga

Aku yang sampingmu dari tadi
Diam terpaku melihat tetesmu
Hanya saja telinga yang nyaris tuli tiba-tiba tertusuk tangis
Mataku melotot
Dan kau peluk nisan yang terdiam mati
Lalu aku dengar bisikan dari pori hitammu”ayah selalu didekatmu”
Kaupun berlalu seperti aku dibelakangnya

KAKI TELANJANG

Langkah demi langkah tak pernah kau hitung
Garis-garis telapak kaki kian melebar
Debu,kerikil,lalang,tak pernah kau perdulikan
Meski telah bersarang dicela-cela garis telapak kakimu

Jari-jari kakimu yang rapuh
Tetap mencengram bumi yang tua

Kulit yang hitam
Rambut yang uban
Mata yang mencekung
Tetap saja kau berjalan telanjang kaki demi darah dagingmu







NYANYIAN JENDELA MALAMMU

Angin mendesir dicela-cela jendelamu
Mengetuk malam yang nyaris tertidur
Ada tangis “sepi”
Berbisik disekat-sekat pohon jati

Diluar jendela ada sepi
Didalam rongga dada ada kata

Nyanyian malammu gemetar karena wajah
Nyanyian malamu berontak karena rindu

Kau tahu “hal yang ada dan tak ada”
Lantas kau bangkit dari sepi
Dan kau nemu “senja” tenggelam

Mungkin :kau sadar



SENJA YANG KABUR

Senja akan pergi
Meninggalkan tempat yang bosan
Dan patokpun telah menunggu dipinggir jalan
Cela telah memberimu bekas sunyi

Senja telah tiada
Tinggal kita berdua yang tersisa
Kitapun duduk dikursi yang tua
Mulut kita saling bercerita pada malam-malam muda

Langit yang bercahaya
Bintang yang berkedip manja
Kita telah sadar dengan musim dirambut kita


Lusa atau:giliran kita



PURNAMA DI ATAS PATOK

Pelan,kau melangkah dijalan setapak
Menuju patok-patok yang telah diam mati dipurnama
Mata yang bening seperti embun,keruh dengan air mata

Angin yang bersiul
Tak mampu menghibur hati yang rindu
Bintang yang manja
Tak mampu memanjakan hati yang resah
Purnama yang indah
Tak mampu indahkan hati yang gelap
Puisi yang tenang
Tak mampu tenangkan hati yang mati

Kau seperti tak mau perduli
Hingga,mantra malaikat sadarkan imajinasimu
Dan purnama lenyap diatas patok
Hannya bekas saja


JARIMU DAN

Kain kafan telah melilit ditubuhnya
Lubang hidung dan telinga telah rapat kafas
Wajah dan bibir tenang dalam tidur indah

Dan kau....!
Kau masih mainkan jarimu disela-sela matinya
Dan bibirmu yang keriput cium bibir yang beku

Kau tak lagi teteskan resah dileting matamu
Melainkan kau nyanyikan doa keihlasan
Lalu kau berbisik pelan dalam tidurnya “ayah mencintaimu”
Lantas kau berdiri sambil takbir jua aku







RAMBUT MALAM

Kemaren,selesai magrib
Kau membelai rambut anak malam yang menimpa kewajahmu
Dan jemarimu yang lelah merabanya

Kau terus seperti tak waras
Mencium bibir,dahi dan wajah tak bernafas
Lalu kau tundukkan kepala disamping raga
Layaknya musafir yang kalah dengan waktu

Kau terus tertunduk
Sementra dipojok sana istrimu menagis melihatmu bukan melihatnya
Kau tak sadar apa mungki bukan waktunya

Perjuangan Tenaga Kerja Wanita dalam Meraih Cita-Cita

Judul Buku             : TKW Mencari Surga Penulis Buku                        : Asa Suzhanty & Abd Azis Ana Penerbit Bu...