Senin, 26 Agustus 2013



PEMULUNG SAJAK
DIAM-DIAM AKU LAMAR
Diam-diam aku lamar kau dalam dekap nafas yang tak bisa kau terjemahkan dalam kata lalu aku tulis namamu di sebuah selembar daun yang baru saja jatuh dari tangkainya

Aku tulis tentang :keindahan cinta juga tentang keindahan Tuhan

Tiba-tiba aku dengar bisikan gaib dari hembusan angin sore “cinta itu bersemi kepada siapapun termasuk Tuhan” lantas,lekas aku titipkan cintaku seraya berbisik “tolong berikan cintaku kepada Tuhan”


KAU DAN AKU
Baru saja aku temukan nafasmu diangin yang telah mati,angin pagi,angin siang,angin sore,angin malam bahkan di dalam nafasku

Barangkali kau adalah aku dan aku adalah kau




PULANG KEPAGI
Pagi-pagi telah aku lihat kau pulang kepagi yang tentram ini padahal tadi malam aku lihat kau di dadar tipis dan di selokan dan di gang-gang kota yang mati

Tadi malam aku lihat wajahmu yang berbentuk tua dan muda,apa mungkin kau adalah dua jenis...?


KATAMU
Katamu:matanya rembulan,hidungnya rembulan,telinganya rembulan,mulutnya rembulan,rambutnya rembulan
Katamu pula;wajahnya rembulan,bahunya rembulan,pundaknya rembulan,tanganya rembulan,pinggulnya rembulan,kakinya rembulan
Tapi kataku:yang di pelihara itu domba


 karya:abd azis

bandung 2013


Rabu, 14 Agustus 2013

DAUN DI UJUNG RANTING

DAUN DIJUNG RANTING ITU
Maka tunggulah daun itu “sayang” sampai angin melepaskan dari rantingnya dan jatuh didepan rumahmu yang nyaris lumpuh itu,jika sudah tiba saatnya:aku akan datang kedalam matamu yang tenang layaknya telaga dan aku ambil kedua matamu lalu aku letakkan dimtaku supaya aku dan kau menyatu dalam cipta Tuhan seperti ranting mencintai daun

AKU MENCINTAIMU
Aku mencintaimu seperti akar mencintai batang,seperti batang mencintai ranting,seperti ranting mencintai daun,seperti daun mencintai getah,lantas seperti apa cintamu kepadaku....?

LIHATLAH DAUN DI LUAR RUMAHMU
Maka lihatlah daun di luar rumahmu yang diam menatap wajahmu angin tak mampu menegornya dan burung-burung tak berani menyapanya  lalu kenapa kau tak segera menjelma suara untuk menyapanya...?
DAUN YANG JATUH
Telah tiba saatnya:daun yang hijau kini kering kembali,angin yang resah telah menjatuhkanya kewajah bumi dan serbuk-serbuk debu telah membawanya kerahim bumi

Tiba-tiba kau datang dengan nyanyian resahkan hati
Dan aku bertanya “kenapa kau datang ketika daun jatuh...?” lantas kau menjawab dengan kepala tertunduk “aku datang karena panggilan yang tak terdengar waktu jua kau”

MELETAKKAN TOPI HITAM DI JENDELA
Tak ada angin tak ada ombak tiba-tiba kau meletakkan topi hitam di jendela kamarku dengan begitu hati-hati,iringan angin menyapa kita dan kita saling tatap- tatapan  tanpa suara tanpa gerak bahkan tanpa kedipan mata,hingga akhirnya suara pecah di antara kita “lihatlah daun hijau itu dan lihat pula daun yang layu dan daun yang telah jatu?” seharusnya kita berkaca dan sadar


Selasa, 13 Agustus 2013



JARI TERLUKA

BY : ABD AZIS
BANDUNG,2013
Add caption
 
ADA KATA
Bangun dari mimpi
Aku lihat jari-jari terkunci dari kesepian
Ada kata di dalam ataupun diluar yang tak mampu di katakan


PANGGILAN
Tadi malam,tubuh dan matamu sama heningnya
 Tajam melirik ke tubuhku yang berdiri dingin
kau panggil aku dari persimpangan malam
Dan akupun memanggil Tuhan untuk merangkulmu

JILBAB
Jilbab dan matamu sama heningnya
Kau paggil aku dari jari yang tak ku mengerti
Dan kupanggil kau dalam angin yang mendesir dipori-porimu

DI LUAR
Kau sentuh jemariku yang dingin mati
Lalu kau tinggalkan dengan bekas yang tak bisa diterjemahkan
Hanya saja kesepian berkata diluar sadar


TAWAR
Kulihat kau diujung jari  yang tergores luka
Dan kau hanya tersenyum manja kearah wajahku yang nyaris tertunduk,lantas aku berbisik dalam duka “kenapa kau tawarkan senyum  sementra jariku tak lagi kau cium”

NASIB
Kemaren lusa
Kau masih menyentuh jemariku yang keriput karena cangkul
Pelan kau telag garis-garis telapak tanganku
Sambil kau katakan “nasibmu telah tertulis di daun”
Sedikit,aku melirikmu sambil kubisikkan hal yang sama

ANGAN
Didalam kamar yang sunyi
Kau letakkan ragamu diatas kasur yang kusut,tapi tidak dengan anganmu
Dengan rindu kau elus-elus bekas jarinya dibantal yang penuh dengan peta kecil
Lalu kau cium bau yang tak nyata dan lekas kau pejamkan mata


BEKAS
Jari-jarimu yang lembut menimpa kemataku
Menutupi pandanganku kelangit,aku tak melihat bintang selain bintangmu
Aku mulain bersiul merdu diantra angin malam
Tapi kau tarik lagi jarimu dan kau tinggalkan bekas memar

KEMATIAN
Dulu,lembut kau sentuh jemariku
Seperti sang ibu menyentuh bayinya
Tapi kenyataannya,kau tinggalkan jemariku disini dengan luka-luka
Dan membiarkan darahnya terus mengalir keujung kematian

LUKA JARI
Sepertinya luka yang kau salipkan diujung jariku
Sakit,perih itu yang terasa
Sementara jarimu memeluk jari yang lain
KEKUATAN
Sunyi yang kau bisikkan di cela-cela garis tangan,adalah kebangkitan kekuatan untuk menancapkan kebahagiaan jiwa


DIAMLAH JARIKU
Diamlah jari-jariku
Malam takkan mendengarkan jeritmu ditengah-tengah pengasingan ini kecuali kau tulus menjerit dalam sujud doa-doamu
Diamlah jari-jariku
Mereka takkan mendengar jerit gelisahmu
Sebab mereka telah mabuk dengan angur-anggur yang telah tersaji di meja luas dan mereka telah menyibukkan diri dari kesunyian jiwa
Tolong diamlah dan tetap kau memutar jarimu yang terluka karna cinta,karena sesungguhnya cinta menempati dua tempat yang berbeda jua sama,yang satu ia menempati ditempat derita dan yang kedua ia menempati ditempat bahagia

PENGATAHUAN
Kita telah temukan jari kita masing-masing
Maka jangan berhenti menghitung jari yang telah tercipta,meski pada hakikatnya hati kita bosan menghitung,sesungguhnya setiap hitungan adalah pengatahuan yang rahasia yang tak ditemukan oleh jiwa kita

RAHASIA
Setiap jari-jari ada garis dan setiap garis adalah pengatahuan yang rahasia
JARI
Bagaimana aku bisa melihat jari-jarimu yang indah itu....?
Sementara jariku belum aku temukan dan belum aku hitung satu persatu

TASBIH
Bagaimana aku bisa menyentuh jari-jarimu...?
Sementara jariku sendiri tak pernah aku sentuh dengan butir tasbih yang melingkar diatas tikar

JARI CINTA
Aku harus katakan  rasa ini lewat jari-jari yang tak bisa dimengerti oleh jiwa tanpa cinta
Maka dengarkanlah bisik pelanku ditelinga kecilmu bahwa jariku telah menedekat kejarimu untuk menyatu dalam keindahan cinta

DOA CINTA  
Jangan kau tinggalkan jariku disini dengan keadaan memar dan luka
Jika kau  lakukan hal itu,maka darah ini akan mengalir untuk mengucapkan doa pengorbanan cinta




KEKASIH HAYAL
Oh,kekasih hayalku yang cantik layaknya bidadari surga,engkau datang dengan jubah putih dan berdiri disampingku sambil kau berbisik “akulah yang kau cintai” dan aku jawab dengan jiwa “dan akulah yang kau cintai jua”

REL
Jadi, aku temukan kau di rel dengan wajah memucat dan bangku tunggu yang mati
Lalu aku dekatkan jariku untuk memebelai rambutmu yang matipula
Aduh......"serumu"
Tuhan telah memelukku "katanya"

HIDUPKEMBALI
Kau terus melukis wajahmu dibayang malam
Dari sudut kesudut kau terus mencakar
Hingga jari yang mati hidup kembali dan kau dekatkan kejari yang lain hingga menyatu dalam angka yang sama

JIWA KOSONG DAN JIWA CINTA
Telah dibisikkan oleh engkau dicela-cela jariku yang nyaris mati
Jiwa yang kosong adalah penghancur  jiwa-jiwa yang lain
Sedangkan jiwa-jiwa cinta adalah penguat untuk jiwa-jiwa yang lain
Telah dibisikkan oleh engkau dicela-cela jariku yang nyaris mati

JIWA KOSONG DAN JIWA CINTA
Jiwa yang kosong adalah penghancuran jiwa-jiwa yang lain
Sedangkan jiwa-jiwa cinta adalah penguat untuk jiwa-jiwa yang lain

DEKAT
Telah kau bsikkan jantung yang bergetar dalam raga"Tuhan dekat dan malaikat dekat pula" layaknya jari-jari yang tak lepas dari raga


CERMEN
Telah kukatakan kepada jari-jarimu yang keriput itu "kita akan kembali kepada cermen"
Dan kita akan jumpai wajah masing-masing dalam tengkurap
Lalu kita akan saling menafsirkan satu sama lain

DITEMUKAN
Suatu saat kita akan jumpai jari kita masing -masing dan kita akan temukan jari yang telah lelah atau mungkin yang sudah mati,lalu kita akan teteskan gerimis dicela langit yang tak musim lagi



WAKTU
Seperti yang diceritakan kemaren oleh bibir manismu "bukan kita yang berpisah tapi waktu yang memisahkan kita dan suatu saat waktu pula yang akan mempertemukan kita diujung jalan dan mata kita saling bertatapan dan jari-jari kita mulain menghitung angka yang terbuang"

GERIMIS TUHAN
Gerimis telah datang dipintu rumahmu dan membasahi halaman rumahmu, aku lihat kau berjalan pintu ke pintu lalu kau singgah di depan yesus, kau tampak tersenyum ketika doa-doa dicurahkan di depan yesus. Aku dengar doa apa yang kau panjatkan, “Jangan biarkan Ia menderita ataupun tersesat dalam cinta”  lantas akupun tersenyum  mendengar doa yang ia panjatkan kepada Tuhannya, lalu kau berdiri dan mendekatiku seperti budak ke tuannya, lekas kau berkata “kenapa kau hanya berdiri di pintu Tuhan?” dan aku menjawab dengan cinta “tidak, ini bukan pintu Tuhanku tapi pintu Tuhanmu dan itu bukan Tuhanku tapi Tuhanmu. Akan tetapi, cinta yang bersarang di dada kita adalah anugerah dari Tuhanmu jua anugerah dari Tuhanku maka, jangan mempermasalahkan tentang agama kita karena manusia dimata Tuhan sama saja. Tapi, hanya saja apa yang disembahnya berbeda.




SULAP
Sangat jelas sayang,hal yang tak ada menjadi ada dan hal yang ada menjadi tak ada,apa mungkin itu sebuah sulap yang diajarkan dibatin kita atau mungkin kebodohan yang memaksa kita percaya hingga akal sehat kita langsung mengatakan “iya”


WAJAH KITA
Suatu saat kita akan tengkurap dalam satu titik dan kita akan temukan diri kita masing-masing dalam keadaan linglung dan tenang

MALAM
Malam,telah berbisik di ujung jari yang nyaris mati seperti pangku tunggu direl,ia berbisik merdu seperti kekasih “bagunlah dari matimu,sebab malam ini adalah malam doamu”








NAMA-NAMA
Masihkah kau menyebut nama yang telah mati,terkubur dalam-dalam dan pintu-pintu rumahnya terkunci untuk kau masuki...?

Masihkah kau memaksa masuk dan tidur diranjang yang telah tua dan mengeja masa-masa yang telah ditelan waktu...?

Sementara kakimu terus menjauh dari mata yang terbatas ini,dan kau sisakan bekas kakimu di setapak jalanku,dan burung-burung liar berterbangan diudara tanpa nama


MATA INDAH
Biarkan aku melihat matamu yang indah itu,bukankah kemaren kau tawarkan dengan bahasa tubuhmu dan merayuku dengan jarimu yang nakal itu,lalu kau biarkan bekas memar begitu saja
Bisakah aku tawar lagi dan aku minta jangan pergi...?

PATUNG
Bukankah aku telah pahat patung yang serupa dengan wajahmu dan meletakkanya disamping pembaringanmu “sayang” tapi entah kenapa suaramu tak aku dengar dan tak lagi memanggil namaku
Apakah sepi teklah kunci dadamu atau mungkin telingaku yang tuli

LANGIT
Bisikmu disuatu petang “kemarilah sayang,marilah kita saling menyentuh jari-jari kita yang nyaris rapuh,barangkali dengan menyatukan jari kita,kita akan kembali utuh seperti kemaren itu lalu lekas kita hitung bintang-bintang dilangit sebelum siang memanggilnya kembali”

RINDU DILANGIT
Sayang,lihatlah langit yang luas tanpa tiang,burung-burung menyusun kata-kata saat senja,ombak dilaut tenang mempermainkan ikan dan karang,lantas dengarkan dadaku yang kian memar lantaran rindu yang tersalip,telengkan telingamu “sayang” didadaku yang terus berbisik hingga kau dengar jeritan tangis dilangit tanpa tiang ini.

DARI JARI RINDUMU
Dari garis jarimu sayang,rindumu memanggil dadaku yang sepi lalu kau tarik mataku yang jauh untuk mendekat,mencium bau tanganmu

Lantas,aku temukan kau tengkurap dalam sungkenm iba,sambil kau tawarkan rindumu kerumput-rumput liar dan menerbangkanya bersama angin.tanpa sengaja ia singga didada telanjang



DARI MATAMU
Dari matamu aku lihat musim kian berganti,dan menamakan dirinya sebagai rindu hati
Dari dasar laut  ia memanggil-manggil cintanya,ada bau kemenyan yang lepas dari raganya entah karena apa...?
Yang menjauh
Tak lepas ia panggil dan dicumbunya

KETIKA SUBUH
Ketika subuh memanggil mati,sandal jepit tergeletak didepan rumah Allah,ia pasrah dalam harap
Didalam rumah Allah,aku lihat kopiah macam-macam,aku lihat baju macam dan aku lihat pula sarung yang macam-macam tapi hatinya tak macam-macam

SUBUH HILANG
Ketika subuh hilang ditelan surya jari yang sepi tak lagi berjalan dibutir tasbih,ia menggantikanya dengan cangkul,arit dan sebuah wadah rumput,ia berkeliaran dimana-mana seperti burung-burung mencari makan




KACA MATA DIMATAMU
Seperti yang dulu sayang,kaca mata itu masih menempel dimatamu yang sabun bahkan kau memanjakannya dengan belayan angin pamekasan,kenapa kau tak buang saja kaca itu dari matamu dan ganti dengan bintang kecil atau mungkin kau titipkan saja keangin sore dan lepaskan diaspal-aspal hitam.

Kini aku datang,bukan sekedar mengantarkan rindu ataupun sajak yang bermain diimajinasi tapi aku datang untuk meniupkan doa yang tak dimengerti oleh dadamu.

Aku tak perlu kau mengerti sayang bahkan aku tak perduli kau mengerti tentang apa yang aku bawa disore ini,maka lekas kau menjelma dewa dan aku akan menjelma angin lalu kita satukan sayap-sayap kita untuk berkeliling diawan

lantas,biarkan saja jejak kita menempel di jalan setapak dan nama-nama kita terhempas angin resah
lalu biarkan mereka mengambilnya dan meletakkannya disaku mereka karena kita tak perlu nama lagi





KUBURAN
Mentari menciup keningku jua patokmu yang tegeletak di wajah-wajah bumi,dadamu yang kenyang terus kau pamerkan di bawah langit tua sambil kau lantangkan suara mati “bukankah kalian tercipta dari tanah,maka ciumlah patok yang memanggil-manggil namamu” lantas aku cium sambil aku bisikkan bahasa yang tak dimengerti malaikat

SENJA DI MUSIM RAMBUT WANITA TUA ITU
Telah aku raba senja di musim rambutmu “sayang” supaya kau betah dalam musim yang akan menjemputmu untuk kembali kepelukan kematian,maka lekaslah kau berbisik keujung jari yang baru tumbuh itu karena aku takut ia luka mengikatkanya

PUISI
Hembusan angin telah mengantarkan puisiku diujung rambutmu yang tua itu dan setiap hela berguguran rindu yang menjelma doa malam bisu,lantas kau perkenalkan dirimu dibayang-bayang layaknya angin mencium dedaunan

Seperti juga diriku :aku perkenalkan dadaku yang kenyang karena rindu lalu menetes gerimes-gerimes kecil untuk mengantarkan keistana Tuhan.maka marilah,  jangan biarkan puisi kita mati dalam abad ini


DAUN DIJUNG RANTING ITU
Maka tunggulah daun itu “sayang” sampai angin melepaskan dari rantingnya dan jatuh didepan rumahmu yang nyaris lumpuh itu,jika sudah tiba saatnya:aku akan datang kedalam matamu yang tenang layaknya telaga dan aku ambil kedua matamu lalu aku letakkan dimtaku supaya aku dan kau menyatu dalam cipta Tuhan seperti ranting mencintai daun

 JARI DI UJUNG MALAM
Aku:aku hitung jariku yang tertinggal angin malam dan burung-burung bersiul tentang sajak malam,lantas aku


















                                                                              








Perjuangan Tenaga Kerja Wanita dalam Meraih Cita-Cita

Judul Buku             : TKW Mencari Surga Penulis Buku                        : Asa Suzhanty & Abd Azis Ana Penerbit Bu...