MALAIKAT TANPA NAMA
KARYA:ABD
AZIS
BANDUNG,17-09-2013
![]() |
| Add caption |
TENTANG KITA DENGAN MALAM
Malam dan angin ada dalam
diri kita dan kita ada dalam pelukannya
Mata kita terus memandang
Terus menjauh menuju
arah-arah yang berlawanan
Semua manusia mencakar dan
merebut sesuatu yang bau bangkai barangkali mereka tak sadar atau telah menjadi
budaknya
Maka kita jangan ikut campur
sayang,biarkan kita tetap bersama malam
Bukankah kita telah
berjanji:kita selalu tetap disini meski keadaan kita seperti lalang kering di
terpa angin
Bukankah kita telah
bersumpah di antara gelapnya malam:apa pun yang terjadi tangan kita tetaplah
bergandingan meski malam menjelma siang
Bandung,18/09/2013
GATAL
Aku gatal lantaran dada ada
bulu
Aku gatal lantaran rumput
dada kian kering
Dan aku gatal lantaran kau
menjadi-jadi
Apakah kau jua gatal....?
Bandung,18/09/2013
SETELAH MAGRIB
Sayang,setelah mangrib surut
entah apa yang kita bisikkan pada malam...?
Sementara mata kita
beransur-ansur surut pula seakan-akan ingin meninggalkan dunia entah maut yang
menyapa
Dari mata mu telah terlihat
musim atau musim-musiman,ternyata ada sepi menyapa di antara dua matamu itu
Bukankah telah aku nakalkan
dirimu di waktu senja
Bandung,18/09/2013
DARI LANGIT
Di sebuah gang tua kita
duduk bersama tanpa kursi atau alas-alas lainnya tapi hanya saja kolor yang
rela mencium bau kencing para penjalan kaki atau para pemabuk
Walaupun demikian
Kita tetap saja santai dan
menitipkan punggung-punggung kita di sebuah dinding retak
Tak perduli “bisikmu
kepadaku”
Yang penting kita telah
terlahir dari langit dan di titipkan kebumi,maka biarkan aku istrahat tentram
Bandung,18/09/2013
MENGINTIP MATA
Dari sekat-sekat gang tua
dan dinding retak
Aku intip matamu yang bening
seperti embun di kuncup daun
Tapi sial,sayap dinding itu
menghalangi pandanganku dan memaksa kau beranjak pergi dari persinggahan
Dan tanpa sengaja aku
menjelma malaikat tanpa julukan
Bandung,18/09/2013
KEPERGIAN
Ketika kepergianmu aku
memunguti bayang-bayangmu di trotuar kota,di sepanjang ingatan,di sepanjang
bola mata,aku merayu dan mencium bekasmu yang telah tertimbun debu jalanan
Di sepanjang ingatan yang
tak pernah di lewati oleh kenakalan-kenakalan waktu,aku dan kau akan jumpai
bayang-bayang yang tak bisa mereka terka dan menjaringnya
Karena kita adalah julukan
tersisa
Bandung,18/09/2013
MALAIKAT
Bisiknya di waktu petang
Kita ini adalah malaikat
tanpa nama dan tanpa sayap untuk
anak-anak kita
Lihatlah mereka
Mereka terlahir dari rahimku
dan tumbuh besar di pundakku
Jika suatu saat kau menjuluki
dirimu sebagai malaikat yang bernama,maka aku tarik nafasmu dan aku kutuk
dirimu
Bandung,19/09/2013
TETAP DISINI
Tetaplah disini sayang
seperti matamu yang tenang di mataku
Dan biarkan dada ini terus
berdetak dan mengalir keujung jalan
Bukankah kita telah saling
berbisik “kita akan tetap disini dan menatap dinding yang baru saja kita bangun
ini”,maka jangan pernah kau pergi atau pindah kelain dinding sebab dada ini tak
mampu berdetak tanpamu
Bandung,22/09/2013
SEPERTI APA DIRIMU
Seperti apa dirimu ketika
malam menjelma gelap?,sementara angin terus memperlihatkan gelisahnya dan wajah
pucatnya,bisakah kau menjelaskan bentuk dirimu kepada dadaku yang sering
bertanya ini?
Bandung,22/09/2013
PERTEMUAN
Kita telah di takdirkan
untuk bertemu di jalan ASIA AFRIKA dan berpisah di jalan itu pula,ah kenapa
malaikat menuntun kita sampai kejalan ini kalau hannya menyisahkan bekas rindu
dan perasaan penasaran,bukankah kita sebelumnya kita tak kenal?
Lantas kenapa kau menyapaku
dengan sapaan sopan dan menitipkan selembar daun yang tak kering-kering pula
Pantaskah aku menunggumu di
jalan itu lagi,jalan yang pernah kita singgahi dan saling tawar menawar rintik
rindu?
Bandung,22/09/2013
MALAM YANG HENING
kini mataku lihat malam yang
hening,aku lihat kau berlayar di puncak gunung kerinduan dan berhenti di
pesisir pantai,kau menjerit lantang di setiap hembusa angin yang tak bisa di
jelaskan oleh ombak kekarang
malam yang hening,aku datang
kepadamu sebab aku lihat dirimu dalam keresahan rindu yang dingin,aku datang
untuk sekedar menemanimu agar dirimu hening jua seperti malam ini
Bandung,22/09/2013
BUMBU RINDU
Kini aku racek bumbu rindu
untuk dirimu sayang supaya dirimu betah bersamaku,sungguh ini bukan lembaran
ayat atau lembaran koran-koran yang sering kau baca setiap pagi tapi tak pernah
selesai-selesai dan sungguh ini juga bukan luka atau racun cemburu yang nyaris
membunuh dirimu tapi ini sekedar bumbu racekanku yang aku buat-buat sendiri
Maka tak perlu kau resahkan
bumbu ini sebab bumbu ini hanyalah sekedar menawarkan rindu pada dadamu
Bandung,22/09/2013
BINTANG
DI MATAMU
Aku
lihat bintang di matamu
Untukmu,aku
datang menyapa bintang kecilmu sebab dari kemaren sore bintangmu berkedip
memanggil sukmaku yang liar di jalanan,maka mendekatlah dan lihat dadaku yang
penuh para malaikat kerinduan
Lihatlah
dengan mata telanjangmu “jika tidak” aku akan menghilang dan terbang bersama
malaikat yang tak kau kenal dan aku takkan pernah singga lagi di bintang
kecilmu
Bandung,22/09/2013
AKU TINGGALKAN BEKAS
Jika waktu telah berbicara
perpisahan kepadamu,aku tinggalkan bekas rindu didadamu dan keyakinan untuk
bertemu lagi
Aku hanya berdoa:semoga
angin selalu menyampaikan doaku kepada para malaikat hatimu hingga pertemuan
itu terulang kembali
Bandung,22/09/2013
MALAIKAT PUN AKAN BERCERITA
Kembalilah,aku mohon
kembalilah seperti waktu yang melukis langit biru
Kembalilah,aku mohan
kembalilah marilah kita duduk di kursi tua ini dan bercerita tentang rintik
hujan yang membasahi dada kita,lihatlah sejenak di sekitar dinding tua ini ia
akan saling berbisik sebgai saksi kerinduan kita sepanjang musim dan para
malaikat-malaikat pun akan bercerita kepada Tuhan,
Bandung,22/09/2013
EMBUN DI UJUNG DAUN
Kini aku diam dalam embun
pagi seraya berbisik pelan”jatulah ke jantung ku dan jua jatuhlah kejantungnya
barangkali dengan begitu ia terjaga dari tidurnya dan beranjak berbisik pula”
Maka jangan lepaskan baju
tidurmu sayangku barangkali embun ini takkan sirna di terpa pagi
Bandung,22/09/2013
ADA OMBAK DI MATA MU
Kini aku datang kedadamu
sayang lantaran aku lihat ombak di
matamu yang tak kunjung surut
Lihatlah....
Aku berlayar di dadamu
dengan perahu kecil dan ikan-ikan yang akan membawa kita ketepi pantai
keindahan dan menjahui mereka yang iri-irian
Maka tetaplah kau bersamaku
dan biarkan ombak di matamu tetap menjerit,memanggil ikan-ikan yang akan
membawa kita berlayar sebab tanpa jeritan ombakmu kita takkan pernah sampai
ketepi
28/09/2013
BINTANG JATUH DI MATA MU
Sebentar lagi magrib akan
tiba sayang dan singgah di ubun-ubun mu yang nyaris tak ada musim lagi,lantas
malaikat malam akan tiupkan mantra atau wahyu untuk kau sadari.
Lepaskanlah hal yang
membuatmu resah sebab keresahan hanyalah permainan pikiran yang rumit
Lepaskanlah hal yang membuat
mu bersedih sebab kesedihan hanyalah permainan waktu yang akan membunuh kita
Lepaskanlah sayang
Lalu sambut bintang yang
jatuh kematamu dan ia akan menemanimu dalam kesunyian dan menatap mu seperti
malaikat yang jatuh cinta dan ia akan menjagamu sampai kau mati dalam pelukannya.
Maka mendekatlah sayang
seperti cahaya yang dekat dengan mata mu dan angin takkan marah atau pun
cemburu sebab ia tahu kalau kau adalah kekasihku
Bandung,28/09/2013
DI SEBUAH PETANG
Di sebuah petang kau diam
sejenak lalu berbisik pada jalan-jalan yang memberi mu kisah atau pun cerita
cinta dalam dadamu. “datanglah kekasihku sebelu lampu-lampu ini mati dan tak mekar
lagi”
“kedatanganku adalah luka
untuk mu dan darah untuk dadaku sebab kedatanganku adalah kenangan yang
membunuh kita” bisikku pada lembar daun hati mu
Tapi aku takkan pernah
berhenti untuk tiupkan doa di setiap gang-gang dada mu dan aku takkan pernah
mati di genggaman tanganmu sebelum kita
kembli pada ranjang ini.
Bandung,28/09/2013
DI SEBUAH JENDELA
Di sebuah jendela
Kau terus saja diam di
jendela malam.meski angin mengetuk pintu-pintu sepi mu dan atap-atap kekal
melihat mu dan bintang lancang mengintip wajah mu.
Saat itu pun aku mendekat
kearah mata mu seperti cahay bintang yang menembus dinding retak rumah mu.
Lalu aku lihat memar di
matamu barangkali itu adalah bekas kemaren atau abad yang lalu
Bandung,28/09/2013
DI RUANG TAMU
Di ruang tamu kita saling
diam-diaman
Di ruang tamu kita saling mencatat
cerita

