Sabtu, 28 September 2013



MALAIKAT TANPA NAMA

 
KARYA:ABD AZIS

 BANDUNG,17-09-2013

Add caption











TENTANG KITA DENGAN MALAM

Malam dan angin ada dalam diri kita dan kita ada dalam pelukannya

Mata kita terus memandang

Terus menjauh menuju arah-arah yang berlawanan

Semua manusia mencakar dan merebut sesuatu yang bau bangkai barangkali mereka tak sadar atau telah menjadi budaknya

Maka kita jangan ikut campur sayang,biarkan kita tetap bersama malam

Bukankah kita telah berjanji:kita selalu tetap disini meski keadaan kita seperti lalang kering di terpa angin

Bukankah kita telah bersumpah di antara gelapnya malam:apa pun yang terjadi tangan kita tetaplah bergandingan meski malam menjelma siang



Bandung,18/09/2013



GATAL

Aku gatal lantaran dada ada bulu

Aku gatal lantaran rumput dada kian kering

Dan aku gatal lantaran kau menjadi-jadi

Apakah kau jua gatal....?

Bandung,18/09/2013



SETELAH MAGRIB

Sayang,setelah mangrib surut entah apa yang kita bisikkan pada malam...?

Sementara mata kita beransur-ansur surut pula seakan-akan ingin meninggalkan dunia entah maut yang menyapa

Dari mata mu telah terlihat musim atau musim-musiman,ternyata ada sepi menyapa di antara dua matamu itu

Bukankah telah aku nakalkan dirimu di waktu senja



Bandung,18/09/2013



DARI LANGIT

Di sebuah gang tua kita duduk bersama tanpa kursi atau alas-alas lainnya tapi hanya saja kolor yang rela mencium bau kencing para penjalan kaki atau para pemabuk

Walaupun demikian

Kita tetap saja santai dan menitipkan punggung-punggung kita di sebuah dinding retak

Tak perduli “bisikmu kepadaku”

Yang penting kita telah terlahir dari langit dan di titipkan kebumi,maka biarkan aku istrahat tentram

Bandung,18/09/2013





MENGINTIP MATA

Dari sekat-sekat gang tua dan dinding retak

Aku intip matamu yang bening seperti embun di kuncup daun

Tapi sial,sayap dinding itu menghalangi pandanganku dan memaksa kau beranjak pergi dari persinggahan

Dan tanpa sengaja aku menjelma malaikat tanpa julukan

Bandung,18/09/2013





KEPERGIAN

Ketika kepergianmu aku memunguti bayang-bayangmu di trotuar kota,di sepanjang ingatan,di sepanjang bola mata,aku merayu dan mencium bekasmu yang telah tertimbun debu jalanan

Di sepanjang ingatan yang tak pernah di lewati oleh kenakalan-kenakalan waktu,aku dan kau akan jumpai bayang-bayang yang tak bisa mereka terka dan menjaringnya

Karena kita adalah julukan tersisa

Bandung,18/09/2013











MALAIKAT

Bisiknya di waktu petang

Kita ini adalah malaikat tanpa nama dan tanpa  sayap untuk anak-anak kita

Lihatlah mereka

Mereka terlahir dari rahimku dan tumbuh besar di pundakku

Jika suatu saat kau menjuluki dirimu sebagai malaikat yang bernama,maka aku tarik nafasmu dan aku kutuk dirimu

Bandung,19/09/2013



TETAP DISINI

Tetaplah disini sayang seperti matamu yang tenang di mataku

Dan biarkan dada ini terus berdetak dan mengalir keujung jalan

Bukankah kita telah saling berbisik “kita akan tetap disini dan menatap dinding yang baru saja kita bangun ini”,maka jangan pernah kau pergi atau pindah kelain dinding sebab dada ini tak mampu berdetak tanpamu

Bandung,22/09/2013











SEPERTI APA DIRIMU

Seperti apa dirimu ketika malam menjelma gelap?,sementara angin terus memperlihatkan gelisahnya dan wajah pucatnya,bisakah kau menjelaskan bentuk dirimu kepada dadaku yang sering bertanya ini?

Bandung,22/09/2013



PERTEMUAN

Kita telah di takdirkan untuk bertemu di jalan ASIA AFRIKA dan berpisah di jalan itu pula,ah kenapa malaikat menuntun kita sampai kejalan ini kalau hannya menyisahkan bekas rindu dan perasaan penasaran,bukankah kita sebelumnya kita tak kenal?

Lantas kenapa kau menyapaku dengan sapaan sopan dan menitipkan selembar daun yang tak kering-kering pula

Pantaskah aku menunggumu di jalan itu lagi,jalan yang pernah kita singgahi dan saling tawar menawar rintik rindu?

Bandung,22/09/2013

















MALAM YANG HENING

kini mataku lihat malam yang hening,aku lihat kau berlayar di puncak gunung kerinduan dan berhenti di pesisir pantai,kau menjerit lantang di setiap hembusa angin yang tak bisa di jelaskan oleh ombak kekarang



malam yang hening,aku datang kepadamu sebab aku lihat dirimu dalam keresahan rindu yang dingin,aku datang untuk sekedar menemanimu agar dirimu hening jua seperti malam ini

Bandung,22/09/2013



BUMBU RINDU

Kini aku racek bumbu rindu untuk dirimu sayang supaya dirimu betah bersamaku,sungguh ini bukan lembaran ayat atau lembaran koran-koran yang sering kau baca setiap pagi tapi tak pernah selesai-selesai dan sungguh ini juga bukan luka atau racun cemburu yang nyaris membunuh dirimu tapi ini sekedar bumbu racekanku yang aku buat-buat sendiri

Maka tak perlu kau resahkan bumbu ini sebab bumbu ini hanyalah sekedar menawarkan rindu pada dadamu

Bandung,22/09/2013









BINTANG DI MATAMU

Aku lihat bintang di matamu

Untukmu,aku datang menyapa bintang kecilmu sebab dari kemaren sore bintangmu berkedip memanggil sukmaku yang liar di jalanan,maka mendekatlah dan lihat dadaku yang penuh para malaikat kerinduan



Lihatlah dengan mata telanjangmu “jika tidak” aku akan menghilang dan terbang bersama malaikat yang tak kau kenal dan aku takkan pernah singga lagi di bintang kecilmu

Bandung,22/09/2013



                                                                                    



AKU TINGGALKAN BEKAS

Jika waktu telah berbicara perpisahan kepadamu,aku tinggalkan bekas rindu didadamu dan keyakinan untuk bertemu lagi

Aku hanya berdoa:semoga angin selalu menyampaikan doaku kepada para malaikat hatimu hingga pertemuan itu terulang kembali

Bandung,22/09/2013









MALAIKAT PUN AKAN BERCERITA

Kembalilah,aku mohon kembalilah seperti waktu yang melukis langit biru

Kembalilah,aku mohan kembalilah marilah kita duduk di kursi tua ini dan bercerita tentang rintik hujan yang membasahi dada kita,lihatlah sejenak di sekitar dinding tua ini ia akan saling berbisik sebgai saksi kerinduan kita sepanjang musim dan para malaikat-malaikat pun akan bercerita kepada Tuhan,

Bandung,22/09/2013





EMBUN DI UJUNG DAUN

Kini aku diam dalam embun pagi seraya berbisik pelan”jatulah ke jantung ku dan jua jatuhlah kejantungnya barangkali dengan begitu ia terjaga dari tidurnya dan beranjak berbisik pula”

Maka jangan lepaskan baju tidurmu sayangku barangkali embun ini takkan sirna di terpa pagi

Bandung,22/09/2013













ADA OMBAK DI MATA MU

Kini aku datang kedadamu sayang lantaran aku lihat ombak  di matamu yang tak kunjung surut



Lihatlah....

Aku berlayar di dadamu dengan perahu kecil dan ikan-ikan yang akan membawa kita ketepi pantai keindahan dan menjahui mereka yang iri-irian



Maka tetaplah kau bersamaku dan biarkan ombak di matamu tetap menjerit,memanggil ikan-ikan yang akan membawa kita berlayar sebab tanpa jeritan ombakmu kita takkan pernah sampai ketepi



28/09/2013



















BINTANG JATUH DI MATA MU

Sebentar lagi magrib akan tiba sayang dan singgah di ubun-ubun mu yang nyaris tak ada musim lagi,lantas malaikat malam akan tiupkan mantra atau wahyu untuk kau sadari.



Lepaskanlah hal yang membuatmu resah sebab keresahan hanyalah permainan pikiran yang rumit



Lepaskanlah hal yang membuat mu bersedih sebab kesedihan hanyalah permainan waktu yang akan membunuh kita



Lepaskanlah sayang

Lalu sambut bintang yang jatuh kematamu dan ia akan menemanimu dalam kesunyian dan menatap mu seperti malaikat yang jatuh cinta dan ia akan menjagamu sampai kau mati dalam pelukannya.

Maka mendekatlah sayang seperti cahaya yang dekat dengan mata mu dan angin takkan marah atau pun cemburu sebab ia tahu kalau kau adalah kekasihku

Bandung,28/09/2013











DI SEBUAH PETANG

Di sebuah petang kau diam sejenak lalu berbisik pada jalan-jalan yang memberi mu kisah atau pun cerita cinta dalam dadamu. “datanglah kekasihku sebelu lampu-lampu ini mati dan tak mekar lagi”



“kedatanganku adalah luka untuk mu dan darah untuk dadaku sebab kedatanganku adalah kenangan yang membunuh kita” bisikku pada lembar daun hati mu



Tapi aku takkan pernah berhenti untuk tiupkan doa di setiap gang-gang dada mu dan aku takkan pernah mati di genggaman tanganmu sebelum  kita kembli pada ranjang ini.

Bandung,28/09/2013





















DI SEBUAH JENDELA

Di sebuah jendela

Kau terus saja diam di jendela malam.meski angin mengetuk pintu-pintu sepi mu dan atap-atap kekal melihat mu dan bintang lancang mengintip wajah mu.

Saat itu pun aku mendekat kearah mata mu seperti cahay bintang yang menembus dinding retak rumah mu.

Lalu aku lihat memar di matamu barangkali itu adalah bekas kemaren atau abad yang lalu

Bandung,28/09/2013





DI RUANG TAMU

Di ruang tamu kita saling diam-diaman

Di ruang tamu kita saling mencatat cerita  


























Senin, 23 September 2013



KAU DAN AKU


Baru saja aku temukan nafasmu diangin yang telah mati,angin pagi,angin siang,angin sore,angin malam bahkan di dalam nafasku

Barangkali kau adalah aku dan aku adalah kau




PULANG KEPAGI
Pagi-pagi telah aku lihat kau pulang kepagi yang tentram ini padahal tadi malam aku lihat kau di dadar tipis dan di selokan dan di gang-gang kota yang mati

Tadi malam aku lihat wajahmu yang berbentuk tua dan muda,apa mungkin kau adalah dua jenis...?


KATAMU
Katamu:matanya rembulan,hidungnya rembulan,telinganya rembulan,mulutnya rembulan,rambutnya rembulan
Katamu pula;wajahnya rembulan,bahunya rembulan,pundaknya rembulan,tanganya rembulan,pinggulnya rembulan,kakinya rembulan
Tapi kataku:yang di pelihara itu domba







IA MENAMAKAN KENANGAN
Wanita tua itu menemukan ia tergeletak di sudut-sudut kota yang nyaris tak dikenal lagi,wanita itu lekas mengambil dan menaruhnya dalam saku yang bau keringat lantara mondar-mandir di bawah mentari sambil berkicau wanita itu menawarkan temuanya keorang yang asyik duduk sambil menghisap rokok “barang temuan aku obrol,barang temuan ini aku namakan kenangan buat perutku yang bernyanyi kelaparan maka belilah” tanpa kata lelaki tua  itu pergi seraya membanting buntung rokonya kelantai dan wanita tua itu kembali menawarkan di lampu merah.

BUKU TUA
Lihatlah aku,dan tetap bersamaku dalam cerita ini,sebab malaikat akan jua bercerita kepada Tuhan
Aku ambil buku tua dalam sakuku yang kusut itu lalu lekas aku tulis namamu dan namaku dalam baris satu supaya tak tertukar dengan yang lain
Andaikan aku tulis semuanya,mungkin kau tak kuasa lari dari pengawasan sajakku






BANGUNLAH BIDADARI RANJANG
Bangunlah bidadari ranjang,kita telah selesai tidur nyenyak, marilah kita lihat di luar rumh barangkali kita melihat daun dengan embun yang sedang bercinta di pagi buta ini.
Jika kita melihatnya jangan sekali-kali kau ganggu dengan bisikan ataupun getaran dadamu karena ia lebih tajam dari pada kita yang baru lahir bercinta

MENGHENTIKAN ANGIN UNTUK MU
Aku hentikan angin yang meresahkan dadamu itu dan aku ikat dengan jaring yang telah aku buat tadi malam

Jika ia berontak.....
Aku paksa ia masuk dalam botol kecil dan aku lemparkan ketengah laut yang angkuh,jika ia tak mau aku kutuk ia menjadi batu seperti MALIN KUNDANG yang di kutuk sang ibunya








DI GANG-GANG TUA ITU
Di gang-gang tua itu ada lelaki tua sedang duduk dengan sebatang rokok basah,ia berkali-kali menyalakan korek dengan jari yang bergetar kedinginan.
Tak kuasa menahan dingin lelaki tua itu lekas membaringkan tubuhnya di atas kardus yang ia tumpuk sebagai kasur empuk,dengan pelan matanya mulain di tutup dan berusaha melupakan kejamnya perjalanan dan angkuhnya manusia di sekitar matanya pelan ia berbisik di atas kardus “tidurlah mata yang lelah sebab di sekitar tak lagi punya cinta,marilah kita temui Tuhan dan kita tagih janji-janjinya”

TUHAN TEMUKAN KU
Aku kira Tuhan tak menemukanku dan tak menegor gerak-gerak yang dilarang,tapi kenyataanya Tuhan menemukanku meski aku sembunyi di cela-cela yang tak terlihat dan Tuhan menegorku dengan sopan dan lembut


PESAN UNTUK TUHAN
Ternyata:ia telah bagun bersama embun yang menetes di pagi ini dan meninggalkan pesan untuk Tuhan yang baru saja membangunkannya,




CERITA DI TEMPAT SAMPAH
Lelaki tua itu merayu istrinya yang sedang bersedih hati lantaran baru bangun tidur tak mendapatkan sesuap nasi

Lantas lelaki tua itu mendekatkan bisikannya di telinga istrinya “sayang,kau adalah bidadariku yang menemaniku di surga yang penuh dendam dan kebencian ini dan kau pula yang mampu memahami keadaanku dan menerima kekuranganku,maka marilah kita kutuk sampah-sampah ini menjadi sesuap nasi barangkali kita bisa melakukanya,jika tidak,biarkan Tuhan yang mengutukkanya untuk kita,jika itu mustahil,maka pejamkanlah mata kita sayang, siapa tahu ketika mata kita terbuka dunia berubah surga abadi dan kita abadi pula”











MARILAH KITA DUDUK DI DEKAT SAMPAH INI
Seorang istri bertanya kepada suaminya “sayang apa yang kau lihat di sana tadi sore itu..?” suamipun menjawab dengan wajah tersenyum “aku melihat seorang wanita yang berjilbab hijau dan baju batik yang melilit indah di setiap tubuh wanita itu sayang” lantas istripun segera merayu suaminya dengan wajah lelah “sayang,marilah kita duduk di dekat sampah ini dan marilah kita pandang bayangan kita masing-masing,bukankah kita ini hanya sekedar bayang di tengah malam”
“Bukankah begitu sayang...?”

AKU MELIHAT JANUR MELENGKUNG
Aku melihat janur kuning di pintu rumahmu,aku melihat janur itu telah melengkung rapi,angin mulain menjauh dan sinar matahari membakar asaku yang terpendam dalam dadaku,
Sayang,dari dinginnya janur-janur kuning itu telah melupakan sisa-sisa percakapan kita di dekat sungai itu
Doa yang tentram menyertaimu,dari sekian lama,dari sekian nafas dan dari bayang-bayang menghilang melupakan kita selamanya,maka hendak kau cintai ia seperti aku mencintaimu






KITA TEMUKAN BAU DI TEMPAT INI
Dari kemaren kita telah temukan bau busuk di tempat ini sayang,tapi kalau kita tak bersekutu dengan bau busuk ini tentu kita takkan temukan nasi di balik-baliknya,
Dari matamu yang bening itu,aku mampu menamakan diriku sebagai pengabdian dan sedangkan kau aku namakan kenangan meski bau busuk telah bercumbu dengan kulit kita

KEPADA KOTA-KOTA
Dari sudut-sudut kota lelaki itu berjalan dengan pelan bersama doa-doa yang tak terdegar,kepada kota yang berdenyut kencang entah karena resah entah karena bosan, tapi aku titip peasan kepada kota tua “hendaklah kau sabar dan lapangkan dadamu dan hendaklah tahan nanamu yang kian muntah”


KITA TULIS SAJA SEPI INI DI DADA KITA
Lebih baik kau diam dari pada mukamu luka,biarkan aku saja yang berteriak di antra mereka yang penuh iri hati,jika mereka tak mendengar ataupun pura-pura tak mendenagr.
Kita tulis saja sepi ini di dada kita masing-masing dan biarkan malam memanggil sepi ini dan mata malam kian melihat kita dengan mata telanjang



DI SEBUAH PINTU TUA
Di sebuah pintu tua kota,kita duduk bersama dan saling tukar-menukar ide.
Bisiknya “mau kemanakan kaleng-kaleng ini kawan...?”
Lantas di antara kita menjawab “lebih baik kita jual dan jadikan sesuap nasi dan lau-launya atau mungkin kita biarkan saja di depan kita dan tunggu sampai menjadi nasi”

KITA BISIKKAN INI DI TEMPAT INI
Dari pada kau menunggu senja tenggelam,lebih baik kau bisikan ini di tempat ini supaya tak basi,aku tahu,kau takkan bisikka ini di tempat kotor ini tapi kita sudah tak  punya hari lagi sayang,
Hari kemaren itu hayalah bayangan dan hari esok hanya sebuah pikiran,maka cepatlah kau bisikan ini di tempat ini sebab yang kita punya hanyalah hari ini sayang.









ADA YANG LUPA
Ada yang lupa,entah aku entah mukaku entah bayanganku entah pikiranku
Entahlah........?

PILIHAN KITA
Kita telah memilih tempat ini untuk kita tidurin semalaman sayang,janganlah kau bisikkan keresahan atau mengaduh pada Tuhanmu sebab Tuhan tak senang mendengar bisikan dadamu yang lemah itu.
Biarkan tempat ini yang akan mencatat gerak dan bisikan kita selama kita singgah di tempat ini,
Dan biarkan pula malaikat yang akan menceritakan tentang kita kepada Tuhan sayang,karena malaikat adalah malaikat kita dan ia takkan menghianati kita









LAMPU KITA
Lihatlah lampu kita sayang.ia bersinar indah tampa kabel atau tiang-tiang listrik,ia bersinar untuk orang-orang semacam kita yang tak punya atap ataupun jendela yang terbuka separuh.

Orang semacam kita hanya mampu berhayal tinggi,berhayal punya rumah indah lengkap dengan taman bunga dan anak-anak kita bermain petak umpet dengan kupu-kupu kecil

Tapi kita tetaplah bersyukur kepada Tuhan yang menciptakan semua ini.
Maka lihatlah sayang......
Lihatlah lampu itu sayang,kita sungguh kaya malam ini karena orang rumah takkan punya lampu semacam ini










MALAM-MALAM
Marilah kita bercinta malam ini sayang,meski angin malam membekukan cinta kita tapi tidak dengan dada kita yang berdenyut kencang,
Lantas apa yang kau ragukan lagi....?
Sementara malam-malam telah tidur bersama dada tak bercinta dan malam-malam kita adalah malam cimta


SEPERTI DI PERSIMPANGAN
Aku juluki kau seniman yang liar karena kau perna berbisik di telingaku yang sedang tuli “kita ini seperti persimpangan kawan,meski pun begitu setidaknya kau mampir dulu dan minum kopi atau segelas teh dan menyalakan sebatang rokok untuk kau nikmati”








AJAL KITA
Akankah ajal kita ada di sini sayang,
Terkubur bersama sampah atau mungkin malam-malam yang akan mengubur raga kita,
Kita mulain kenal kecemasan yang menyapa di antara antrian mereka ia melipat-lipat wajah kita dan di asingkan di tempat yang belum kita kenal,
Sebelum kita di asingkan:lihatlah wajahku dan kau hafalkan baik-baik sayang barangkali kita berjumpa lagi


BISIKAN SEORANG PEMULUNG KEPADA TUHAN
Lelaki itu menjerit kesakitan seperti keledai di terkam singa,
Ini aku Tuhan,ini aku Tuhan,ini aku Tuhan dan ini milik-Mu
Maka dengarkanlah bisikanku di hadapan-Mu dan kabulkan permintaanku seperti kau mengabulkan perpintaan kekasih-Mu

Bandung,2013






KETIKA MALAM TIBA
Ketika malam tiba ia berjalan ketempat persinggahan perut kosong sambil ia memeluk karung yang telah kotor dan bau sampah.
Sepeti tak menghiraukan bunyi sepatu yang selalu menemaninya di sepanjang jalan,ia hanya menerka-nerka dalam benaknya “barangkali lampu besar ataupun lampu kecil masih menyala untukku,untuk jalan-jalan gelapku” tiba-tiba pikiranya kembali lenyap lantas ia menarik nafas dalam-dalam lalu di keluarkan pelan-pelan seraya ia berbisik “selamat malam kesunyian,aku tahu kau selalu menyapa siapapun termasuk semacam diriku ini,maka aku tak heran lagi kecemasan memanggil-manggil di telingaku yang lumayan tuli ini”

Bandung,14-09-2013


TENGAH MALAM
“sayang” jalan-jalan telah gelap,lampu telah tak menyala lagi untuk kita sapa tapi angin terus saja memanggil-manggil namaku untuk bermain dalam kesunyian.
Akupun panggil namamu ketika angin berhenti memanggil namaku barangkali kau mendengar
Jika tidak.........
Lekas kau lenyap dalam dadaku  karena masih banyak nama-nama yang belum aku panggil          
BUNGA KERTAS
Lihatlah bunga-bunga kertas di langit-langit kamar mu sayang,
Barangkali masih ada kenangan di cela-celanya atau mungkin bintang yang samar oleh mata indahmu
Ingatkah kau sayang.....?
Bunga kertas yang aku lipat waktu itu,adalah kertas yang aku ambil dari tempat tong sampah di dekat rumahmu
Jika masih ingat:bisikkan suara indahmu di dekatnya barangkali ia hidup dan tak pernah mati
Bandung,2013

KITA SAMA-SAMA BERBISIK
Marilah kita saling berbisik,dari telinga kiri ketelinga kanan,siapa tahu malaikat tak mendengar apa yang kita bisikkan ini.
Jika sekiranya malaikat mendengar “tak usa kita berbisik karena bisikan kita adalah rahasia hati”

Bandung,2013






LIPATAN KERTAS PUTIH
Ingatkah kau sayang waktu itu...?
Hujan turun di tengah-tengah perjalanan kita menuju rumah kertas
Kita pandang ilalang yang kedinginan,pohon-pohon basah kuyuk seperti baju kita yang tak bisa di keringkan dalam satu jam
Tak ada yang menyaksikanya di kala itu hanya saja lipatan kertas putih yang basah pula,barangkali ia sempat menyimpan kenangan kita
Kelak jika kita lupa atau pikun:tanyalah kertas itu
Bandung,2013

KITA NAMAKAN
Kita namakan ini kenangan
Kenangan yang tertulis atau tak tertulis
Jika kenangan ini tertulis:biarkan mereka yang membacanya dan menceritakan kepada anak-anaknya
Jika kenangan ini tak tertulis:biarkan pula mereka yang menceritakanya lewat mulut kemulut

Bandug,2013



MARI KITA SAKSIKAN
Mari kita saksikan debu-debu  yang berterbangan dan jatuh entah kemana
Mari kita saksikan musim semi dan musim-musiman
Mari kita saksikan dan kita akan kembali lagi keasal kita
Mari kita saksikan lebih lama  dan lebih jauh lagi maka kita akan jumpai

Bandung,2013


TANPA APA PUN
mereka jumpai malam-malam dengan kemanjaan baju tidur,kasur,bantal,seperai,jendela,pintu dan korden-korden yang indah melambai di setiap sudut kamar
sementara kita sayang,kita hanya jumpai malam dengan sapaan kesepian tanpa baju tidur,tanpa kasur,tanpa bantal,tanpa seperai,tanpa jendela,tanpa pintu,tanpa korden-korden
tapi kita santai saja di pelukan malam dan dinginya angin sepertinya kita telah biasa dengan kebiasaan malam.
Bandung,2013

Perjuangan Tenaga Kerja Wanita dalam Meraih Cita-Cita

Judul Buku             : TKW Mencari Surga Penulis Buku                        : Asa Suzhanty & Abd Azis Ana Penerbit Bu...