MATI DALAM SUNYI
“untuk sahabatku”
“mati aku”
Jerit wanita itu dalam kamar sunyi
Tak ada yang mendegar jeritan itu kecuali atap-atap yang
kekal di ubun-ubun dan lampu lenyap dalam gelap
Lantas ia diam sambil meraba bantal-bantal yang berbekas
darah
Dan ia cium dengan dada yang penuh hujan kerinduan
Tak ada kata yang muntah dari bibir manisnya
Hanya saja gerimis menetes di cela-cela matanya hingga ia
jumpai kesunyian yang mencengram urat-urat lehernya
Lalu aku
Lambat laun mendekat seperti angin yang membelai rambut
indahnya
Dan aku menjelma seperti yang ia rasa
Hingga aku jua jumpai kesunyian yang bersarang di mata dan di
dadanya
Madura,10/11/2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar